TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ramadan baru berjalan beberapa hari. Namun jantung para ASN di Kota Tasikmalaya sudah berdegup lebih cepat.
Bukan karena tarawih yang panjang. Bukan juga karena menu sahur yang terlalu pedas.Tapi karena satu kata. THR. Tunjangan Hari Raya.
Uang yang setiap tahun dinanti. Uang yang biasanya datang sebelum Lebaran. Uang yang sudah punya “alamat” sejak jauh-jauh hari.
Baca Juga:Bagikan Kemanfaatan dalam Kesederhanaan, Radar Tasikmalaya dan Gandara Group Bagi-bagi Takjil di JalanViman Alfarizi dan Mimpi Menghidupkan Wiriadinata: Terbang Tinggi atau Mengulang Luka Lama!
Ada yang untuk cicilan motor. Ada yang untuk seragam anak. Ada yang untuk mudik. Ada juga yang diam-diam sudah dijanjikan kepada mertua.
Tahun-tahun sebelumnya, urusan THR jarang membuat ASN Kota Tasik gelisah. Tahun ini berbeda. Rasa dagdigdug mulai terasa. Ada yang panik.
Ada yang mulai bertanya di grup WhatsApp. Ada yang mencoba mencari kabar ke BPKAD. Ada juga yang sekadar bertanya ke sesama pegawai di ruang kantor. Jawabannya hampir sama. Belum jelas.
Masalahnya sederhana tapi pelik. Sumber anggarannya belum jelas. Itulah yang membuat suasana menjadi seperti ruang tunggu operasi.
Sunyi tapi penuh kecemasan.Padahal di daerah tetangga, cerita berbeda sedang terjadi. Di wilayah Priangan Timur, beberapa pemerintah daerah sudah mengambil langkah cepat.
Ada yang berani. Ada yang pragmatis. Ada yang realistis. Meminjam uang ke bank. Salah satunya Kota Banjar. Pemkot Banjar bahkan sudah menghitung dengan detail.
THR tahun ini mencapai Rp21.024.580.660. Jumlah penerimanya juga jelas. Sekitar 4.824 ASN. Terdiri dari 2.586 PNS dan 2.338 PPPK.
Baca Juga:Padel Mengubah Peta Bisnis di Kota Tasikmalaya: Nongkrong dan Hitung-Hitungannya!Saat Pecinta Vespa SOG Indonesia Chapter Tasikmalaya, Satu Lesehan Membedah Kelas Trading di Pondok Pesantren!
Kepala BPKPD Kota Banjar, Ian Rakhmawan Suherly melalui Kabid Perbendaharaan Nur Jamilah bahkan sudah menjelaskan skemanya.
Pemkot Banjar akan meminjam ke bank bjb.Peminjaman jangka pendek. Nanti dibayar setelah kemampuan kas daerah membaik. Bagi mereka, yang penting satu: ASN harus tenang dulu.
Pelayanan pemerintahan harus tetap berjalan. Karena ASN yang pikirannya tenang akan bekerja lebih baik. Logika yang sederhana.
Namun terasa sulit di Kota Tasikmalaya. Di kota ini, langkah seperti itu belum terlihat.Belum ada sinyal pinjaman daerah. Belum ada hitung-hitungan terbuka.
Bahkan ada yang berbisik: jangan-jangan belum dihitung. Padahal kepala daerah di banyak tempat sudah serempak mengambil keputusan yang sama. Gubernur. Bupati. Wali kota lain.
