TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Suasana berbeda terlihat di Alun-Alun Kota Tasikmalaya, Kamis (5/3/2026) sore.
Sejumlah elemen masyarakat dan mahasiswa berkumpul dalam Aksi Kamisan, menyuarakan kritik terhadap isu pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) sekaligus menolak praktik impunitas yang dinilai masih bercokol.
Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB itu diisi dengan refleksi bersama serta mimbar bebas.
Baca Juga:Mahasiswi UMB Sukses Bikin Tersenyum Bangga, Hasna Raih Juara Nasional Desain Program PemberdayaanSunyi Terlalu Lama, Warga Curiga: Lansia di Kota Tasikmalaya Ditemukan Meninggal Dunia
Peserta yang mayoritas mengenakan atribut hitam tampak khidmat mendengarkan berbagai narasi ketidakadilan yang disampaikan secara bergantian.
Di tengah hiruk-pikuk ruang publik Kota Tasikmalaya yang sering lebih ramai oleh seremoni, aksi ini hadir sebagai pengingat bahwa masih ada suara yang memilih bertanya: ke mana arah keadilan berjalan.
Rifqi, salah satu peserta aksi, mengatakan kegiatan tersebut tidak dimaksudkan sebagai respons sesaat terhadap satu peristiwa, melainkan upaya membangun gerakan yang berkelanjutan.
“Inisiasi ini berangkat dari pembicaraan sebelumnya agar menjadi agenda rutin. Orang-orang yang ikut akan terus diajak berkumpul dan berjejaring supaya gerakan ini tetap berjalan,” ujarnya.
Ke depan, kata dia, kegiatan tidak hanya berupa mimbar bebas. Peserta berencana menghadirkan kuliah jalanan dalam bentuk diskusi terbuka, hingga ruang ekspresi seni seperti musik dan stand up comedy.
“Jadi tidak hanya orasi, tapi juga ruang belajar bersama di jalanan,” tambahnya.
Dalam aksi tersebut, massa juga menyoroti sejumlah isu yang dianggap berkaitan dengan praktik impunitas.
Baca Juga:Akses Keuangan di Garut Diperluas, TPAKD Dorong UMKM dan Petani Keluar dari Zona “Cukup Seremoni”Usai Lebaran, Tasikmalaya Melepas Penat: Kolaborasikan Dangdut Koplo dan Musik Religi dalam Satu Panggung!
Mulai dari persoalan tahanan politik pada Agustus 2025, insiden penembakan, hingga sikap politik global Indonesia yang dinilai perlu dikritisi.
“Isunya tidak dibatasi. Bisa nasional atau lokal yang dekat dengan masyarakat. Tapi fokus utamanya tetap pada impunitas dan pelanggaran HAM,” tegas Rifqi.
Isu HAM di tingkat lokal Kota Tasikmalaya turut disorot. Ferry, mahasiswa Teknik Sipil Universitas Cipasung yang baru pertama kali mengikuti aksi tersebut, menyampaikan orasi mengenai fenomena child grooming serta ketimpangan sosial yang dinilai masih terjadi.
Ia juga menyinggung kasus anak sekolah dasar yang nekat mengakhiri hidup karena tidak mampu membeli alat tulis.
“Tadi saya menyoroti soal anak sekolah dasar yang sampai bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis. Negara tidak bisa benar-benar merdeka kalau pemerintah masih belum bisa menegakkan keadilan,” katanya.
