Ia menilai BI seharusnya melakukan survei tingkat literasi digital masyarakat sebelum menerapkan kebijakan penuh berbasis aplikasi.
“Kalau 10 tahun ke depan mungkin bisa full digital. Sekarang belum semuanya siap. Jadi online dan offline harus tetap ada,” cetusnya.
Tantan juga menegaskan bahwa kebijakan ini bukan karena kekurangan stok uang baru.
Baca Juga:Promotor Menjerit, Pajak Hiburan Kota Tasikmalaya Bocor: Pemerintah Hadir saat Narik, Absen Ngurus VenueAliansi P3K Paruh Waktu Kota Tasikmalaya Tebar Takjil di Padayungan, Tetap Bergerak di Tengah Isu Penghapusan
“BI pasti sudah hitung dari data tahun-tahun sebelumnya. Ini bukan soal kekurangan dana, tapi soal mekanisme layanan,” katanya.
Antrean Digital Lebih Panjang dari Antrean Fisik
Seperti diberitakan sebelumnya, program penukaran uang baru di Kota Tasikmalaya mulai berjalan Selasa (3/3/2026) di sejumlah bank seperti BJB, Sinarmas, Mega, dan BSI Masjid Agung.
Masyarakat yang berhasil mendaftar lewat aplikasi PINTAR BI langsung dilayani sesuai jadwal. Namun yang gagal masuk sistem, pulang dengan tangan kosong.
Di BSI Masjid Agung, antrean fisik relatif lengang. Yang panjang justru antrean digital—di layar laptop dan ponsel.
Alinda (31), ibu rumah tangga asal Jalan Otista, mengaku harus berjibaku berjam-jam demi satu slot penukaran.
“Dari jam 7 pagi sampai jam 10 baru dapat. Pakai empat laptop. Rasanya kayak nge-war tiket konser,” ujarnya.
Sementara Ani Suryani (36) asal Malangbong, Garut, mengaku biasanya menukar uang hingga Rp20 juta. Tahun ini terpaksa dikurangi karena sulit tembus aplikasi.
Baca Juga:Ramadan Festival Kampus: UMB Sulap Bulan Puasa Jadi Arena Lomba, Bazar, dan Ngabuburit ProduktifMesin ATM Bank Mandiri Kota Tasikmalayan Kebakaran, Kerugian Ditaksir Rp 300 Juta
“Biasanya ada kenalan di bank. Sekarang harus lewat aplikasi, jadi susah,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan DPRD Kota Tasikmalaya. Anggota Komisi II Enan Suherlan menilai digitalisasi jangan sampai menutup akses warga yang kesulitan teknologi.
“Pemerintah itu tugasnya melayani, bukan bikin warga stres duluan,” ujarnya.
Sekda Kota Tasikmalaya Asep Goparullah mengakui mekanisme masih terpaku pada SOP berbasis aplikasi.
“Nanti akan kami komunikasikan dengan BI. Mudah-mudahan selain aplikasi juga ada yang manual,” katanya.
Hingga berita ini diturunkan, Humas Kantor Perwakilan BI Tasikmalaya belum memberikan tanggapan.
Jika tak segera ada jalan tengah, Lebaran di Kota Tasikmalaya berpotensi melahirkan tradisi baru: bukan lagi antre uang di bank, melainkan antre sinyal dan kuota di depan layar ponsel. (rezza rizaldi)
