Selain festival utama, seluruh civitas akademika UMB juga menjalankan agenda Ramadan rutin: salat berjamaah, kultum tujuh menit, dan tadarus bersama.
Menariknya, peran imam dan penyampai kultum dilakukan secara bergiliran oleh dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.
Targetnya jelas: membiasakan warga kampus agar tidak canggung ketika diminta memimpin salat atau berbicara di ruang-ruang sosial keagamaan di luar kampus.
Baca Juga:Mesin ATM Bank Mandiri Kota Tasikmalayan Kebakaran, Kerugian Ditaksir Rp 300 JutaProgram Ramadan JNE Dongkrak Arus Kiriman, Promo Mudik hingga Diskon Ongkir Jadi Mesin Pertumbuhan
Dengan konsep seperti ini, Ramadan di Kota Tasikmalaya versi UMB bukan sekadar ibadah individual, tapi juga latihan kepemimpinan, ruang silaturahmi, dan ajang unjuk kreativitas mahasiswa.
Kalau kampus lain sibuk dengan proposal dan rapat, UMB memilih meramaikan Ramadan dengan lomba adzan, warna-warni crayon anak TK, dan aroma takjil.
Sebuah cara santai tapi serius untuk menjaga denyut spiritual tetap hidup di tengah hiruk-pikuk akademik. (rezza rizaldi)
