Menurutnya, predikat yang diraih adalah sertifikat Menuju Kota Bersih. Artinya Banjar masih dalam proses, belum pada tahap ideal. Dan fakta di lapangan menunjukkan masih banyak persoalan mendasar.
Belum lama ini, masyarakat melihat langsung armada truk pengangkut sampah dengan kondisi kontainer sampah yang bolongm
“Itu bukan sekadar soal teknis, itu simbol lemahnya keseriusan dalam tata kelola. Bagaimana mungkin kita bicara transformasi sistemik jika infrastruktur dasarnya saja belum layak,” tegasnya.
Baca Juga:Menjaga Kepercayaan!Pangan Dipasok Luar Daerah, Kota Tasikmalaya Hanya Jadi "Meja Makan"
Selain itu, bahwa problematika sampah di Kota Banjar bukan hanya soal pengangkutan saja. Melainkan persoalan mendasarnya, Ylyakni minimnya pengurangan di hulu, lemahnya budaya pemilahan, dan belum transparannya data pengolahan akhir.
“Jika yang diperbaiki hanya wajah luar kota, sementara sistem di belakangnya masih rapuh, maka ini hanya kosmetik kebijakan,” pungkasnya.
Pihaknya, mengingatkan agar penghargaan ini tidak dijadikan alat legitimasi politik. Lingkungan hidup bukan panggung pencitraan. Jangan sampai seremoni nasional lebih rapi daripada pengelolaan riil di lapangan. (Anto Sugiarto)
