Menjaga Kepercayaan!

radar tasikmalaya
MR Hakim, General Manager Radar Tasikmalaya
0 Komentar

oleh: MR Hakim (GM Radar Tasikmalaya)

DUA puluh dua tahun itu lama. Apalagi untuk sebuah media daerah. Banyak yang lahir bersamaan dengan Radar Tasikmalaya pada awal 2000-an. Sebagian sudah tutup. Sebagian lagi tinggal nama. Ada juga yang berubah bentuk—sampai sulit dikenali sebagai media.

Radar Tasikmalaya tetap ada. Ia lahir pada 1 Maret 2004. Zaman masih analog. Internet belum seperti sekarang. Media sosial belum menguasai pikiran banyak orang. Waktu itu, tugas media relatif jelas: memberi informasi, mengedukasi, dan melakukan kontrol sosial.

Hari ini, tugas itu justru terasa lebih berat.

Informasi berlimpah. Tapi kebenaran sering tersembunyi. Opini bebas. Tapi tanggung jawab menyusut. Semua bisa bicara. Tapi tidak semua mau memeriksa.

Baca Juga:Pangan Dipasok Luar Daerah, Kota Tasikmalaya Hanya Jadi "Meja Makan"Bukan Sekedar Bukber!

Di situlah peran media diuji. Radar Tasikmalaya memilih tetap berdiri di tengah. Tidak terlalu ke kiri. Tidak terlalu ke kanan. Menjadi jalan tengah informasi—tempat publik bisa berhenti sejenak, membaca dengan kepala dingin, lalu berpikir.

Radar Tasikmalaya tumbuh menjadi rumah besar. Ada Harian Pagi Radar Tasikmalaya. Ada Radar Ciamis, Radar Banjar, Radar Pangandaran, Rakyat Garut—yang kini hadir dalam format digital. Ada Radar Tasikmalaya TV. Ada radartasik.id, radartasik.com, radarciamis.com, radarsingaparna.com, radarpangandaran.com.

Dua puluh dua tahun menjaga kepercayaan bukan perkara sepele. Kepercayaan tidak bisa dicetak seperti koran. Ia dibangun dari kebiasaan kecil: memverifikasi, mengonfirmasi dan berani menunda tayang demi satu kebenaran tambahan.

Sebagai media di Priangan Timur, Radar Tasikmalaya punya beban lebih. Beritanya menyentuh orang-orang yang saling mengenal. Kesalahan satu baris bisa berbuntut panjang. Karena itu, kontrol sosial dilakukan tanpa teriak-teriak. Kritik disampaikan dengan data, bukan emosi.

Radar Tasikmalaya bukan hanya mencatat peristiwa. Ia ikut mendidik publik. Mengajak pembaca memahami kebijakan, bukan sekadar bereaksi. Mengurai masalah, bukan memperkeruh suasana.

Selama 22 tahun, Radar Tasikmalaya telah menjadi ruang sosialisasi. Antara pemerintah dan masyarakat. Antara rencana dan pelaksanaan. Antara niat baik dan realitas di lapangan. Media memang bukan hakim. Tapi ia saksi. Dan saksi yang baik harus jujur.

0 Komentar