De Rossi Ingin Patahkan Kutukan 11 Kekalahan Beruntun Genoa di Kandang Inter

Daniele De Rossi
Daniele De Rossi Foto: Tangkapan layar Instagram@officialasroma
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Tantangan berat menanti Genoa CFC saat bertandang ke markas Inter Milan di San Siro.

Namun bagi pelatih Daniele De Rossi, laga ini bukan sekadar formalitas menghadapi pemuncak klasemen.

Ia ingin mematahkan kutukan panjang: sebelas kekalahan beruntun Genoa di kandang Nerazzurri.

Baca Juga:Jurnalis Italia: Juventus Gagal Curi Maignan dari AC MilanDe Rossi Tak Takut Timnya Jadi Ajang Pelampiasan Amarah Inter yang Tersingkir dari Liga Champions

San Siro selama ini menjadi stadion yang nyaris tabu bagi Rossoblu karena setiap kunjungan ke Meazza selalu berakhir pahit.

Statistik tak berpihak, kualitas lawan jelas lebih unggul, dan tekanan publik tuan rumah kerap menjadi faktor pembeda. Namun De Rossi menolak tunduk pada sejarah.

“Jika mereka bermain 100 persen dan kami juga, mungkin mereka tetap menang karena mereka lebih kuat,” ujar De Rossi realistis.

“Tapi kami tidak boleh menerima skenario yang sudah ditentukan,” lanjutnya.

Ucapan itu mencerminkan filosofi pelatih muda tersebut: berani melawan arus, bahkan ketika peluang terlihat kecil.

Target utama Genoa musim ini tetap realistis—mengamankan poin demi menjauh dari zona degradasi.

Saat ini mereka mengoleksi 21 poin dari 16 pertandingan. Namun jarak dengan tim peringkat ketiga dari bawah hanya terpaut tiga angka.

Baca Juga:Dibeli Cristiano Ronaldo, Almeria Tambah 200.000 Pengikut Baru di Instagram dalam SehariKabar Baik bagi Juventus, Bremer Siap Jadi Starter Lawan AS Roma

Artinya, setiap laga memiliki bobot krusial, termasuk saat menghadapi Inter yang sedang memimpin klasemen.

Kemenangan mungkin terasa ambisius, tetapi satu poin pun akan sangat berarti dalam perjuangan bertahan di Serie A.

Secara taktik, De Rossi mulai menunjukkan sentuhan khasnya. Ia melakukan sejumlah penyesuaian untuk memperkuat identitas tim.

Ruslan Malinovskyi kini diplot lebih dalam sebagai gelandang bertahan, mengisi kekosongan peran playmaker murni sekaligus menjaga keseimbangan permainan.

Kreativitas permainan kemudian digeser ke sektor tengah yang lebih dinamis.

Sementara itu, Tommaso Baldanzi berkembang menjadi gelandang serba bisa. Ia tak hanya bertugas membangun serangan, tetapi juga membantu fase transisi dan pressing.

Perubahan ini berdampak positif. Di paruh kedua musim, Genoa menjadi salah satu tim dengan jumlah clean sheet terbanyak—indikasi bahwa soliditas pertahanan mulai terbentuk.

Menghadapi Inter, De Rossi diperkirakan akan menurunkan formasi menyerang dengan dua penyerang utama dan Baldanzi sebagai penghubung di belakang keduanya.

0 Komentar