Viman Alfarizi dan Mimpi Menghidupkan Wiriadinata: Terbang Tinggi atau Mengulang Luka Lama! 

Bandara wiriadinata, maskapai citilink
Ilustrasi penerbangan citilink di Bandara Wiriadinata
0 Komentar

Tapi pasar tidak bisa dipaksa. Bandara kembali lesu. Tanggung. Hanya melayani rute ke Halim, yang bagi sebagian penumpang dianggap kurang strategis dibanding bandara utama.

Masalahnya bukan landasan. Bukan fasilitas. Masalahnya permintaan. Dampak Ekonomi. Harapan atau Asumsi?Argumen yang selalu muncul, bandara akan mendongkrak ekonomi. Pariwisata naik. Investor datang. Secara teori, benar.

Tapi ekonomi tidak tumbuh hanya karena ada pesawat. Ia tumbuh karena ada alasan orang datang. Apa magnet baru Kota Tasikmalaya hari ini yang membuat pebisnis atau wisatawan memilih terbang, bukan naik mobil atau kereta?

Baca Juga:Padel Mengubah Peta Bisnis di Kota Tasikmalaya: Nongkrong dan Hitung-Hitungannya!Saat Pecinta Vespa SOG Indonesia Chapter Tasikmalaya, Satu Lesehan Membedah Kelas Trading di Pondok Pesantren!

Jika jawabannya belum solid, maka pesawat bisa jadi hanya simbol, bukan solusi. Keinginan Viman bisa dibaca sebagai visi. Tasikmalaya tidak boleh terisolasi. Tidak boleh hanya mengandalkan darat.

Namun visi harus diikat angka. Berapa potensi penumpang riil per minggu?Berapa load factor minimal agar tidak membebani APBD? Berapa tahun masa subsidi? Apa exit strategy jika tetap merugi?

Tanpa itu, blocksheet bisa menjadi lubang anggaran. Dan ketika APBD harus terus menggelontorkan dana untuk kursi kosong, publik akan bertanya, ini investasi masa depan atau sekadar ambisi yang terlalu cepat?

Menghidupkan bandara memang memberi kebanggaan. Tapi membiarkannya hidup dengan infus dana tanpa kepastian pasar bisa lebih menyakitkan.

Apalagi di tengah proyek tol besar yang sebentar lagi membuka akses darat jauh lebih efisien. Kota Tasikmalaya kini berada di persimpangan.

Terbang mengejar percepatan. Atau bersabar menunggu jalan tol. Yang jelas, kali ini publik tidak hanya ingin mendengar deru pesawat.

Publik ingin mendengar angka. Kajian. Peta jalan. Karena mimpi boleh tinggi. Tapi APBD tetap harus berpijak di bumi. (red)

0 Komentar