Reaktivasi Bandara Wiriadinata Kota Tasikmalaya Dipertanyakan DPRD: Jangan Ulang Drama Sepi Penumpang 2023

reaktivasi Bandara Wiriadinata Kota Tasikmalaya dipertanyakan DPRD
Suasana Bandara Wiriadinata Kota Tasikmalaya saat penerbangan komersil pada 2023 lalu. Rezza Rizaldi / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

“Ngobrol kebutuhan, bukan ngobrol keinginan. Kalau dagang itu kan demand dulu. Ada permintaan atau tidak,” katanya.

Enan juga mengingatkan bahwa penerbangan komersial adalah bisnis, bukan panggung seremoni. Maskapai hidup dari profit, bukan dari kebanggaan daerah semata.

“Orang mungkin bangga punya bandara aktif. Tapi nilainya bukan di situ. Pengusaha itu cari benefit, cari untung,” tambahnya.

Baca Juga:Ramadan 2026, Bank Indonesia Siapkan Rp2,55 Triliun untuk Penukaran Uang di Wilayah Tasikmalaya Satgas Pajak Konser Mengemuka, Diky Candra: Jangan Sampai Musik Ramai, PAD Sepi di Kota Tasikmalaya

Ia tidak menutup kemungkinan reaktivasi dilakukan dengan niat baik, termasuk untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Namun langkah itu, kata dia, wajib diawali kajian serius: berapa potensi penumpang per hari, bagaimana pola perjalanan masyarakat, serta apakah sektor bisnis dan pariwisata cukup kuat menopang rute reguler.

“Hari ini dasarnya apa? Demand-nya apa? Permintaannya benar-benar ada atau cuma asumsi?” ucapnya.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penanda bahwa reaktivasi bandara bukan sekadar membuka kembali jalur udara, melainkan memastikan keberlanjutan.

Tanpa data valid dan perhitungan rasional, risiko mengulang kegagalan 2023 terbuka lebar.

Dan bagi Enan, kebijakan yang baik selalu dimulai dari satu hal sederhana: kebutuhan yang terukur, bukan sekadar harapan yang ingin segera lepas landas. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar