Ia menegaskan bahwa setiap laga di GBLA selalu berbicara tentang kebanggaan, namun pada saat yang sama juga memanggil tanggung jawab bersama.
Stadion yang bersih dan terkelola baik, menurutnya, mencerminkan jati diri komunitasnya.
Melalui kolaborasi dengan Jubelo dan pendekatan zero waste to landfill, manajemen ingin memastikan GBLA tetap menjadi rumah yang nyaman, aman, dan membanggakan—hari ini maupun pada waktu yang akan datang.
Baca Juga:Fantastis, Selalu Menang, Persib Cetak 22 Gol di GBLA dan Hanya Kebobolan 1 dalam 12 Pertandingan KandangBeckham Putra Bicara Modal Persib Hadapi Persebaya Usai Pesta Gol ke Gawang Madura United 5-0
Upaya ini bukan kerja semalam. Dalam pertandingan-pertandingan sebelumnya, prinsip serupa telah dijalankan secara konsisten.
Saat menghadapi Malut United tercatat 4.862 kilogram sampah terkelola; melawan PSBS Biak sebanyak 4.895 kilogram; kontra Persija Jakarta mencapai 6.571 kilogram; menghadapi Borneo FC 2.948 kilogram; melawan Bangkok United 3.916 kilogram; saat bertemu Bhayangkara FC 3.872 kilogram; kontra PSM Makassar 4.972 kilogram; menghadapi Dewa United 3.003 kilogram; melawan Lion City Sailors 2.522 kilogram; saat menjamu Persebaya Surabaya 1.564 kilogram; menghadapi Persis Solo 1.903 kilogram; serta ketika berjumpa Selangor FC 2.079 kilogram.
Setiap angka menjadi penanda bahwa perubahan dibangun lewat konsistensi, bukan gegap gempita sesaat.
Melalui kampanye #JagaGBLAJagaPERSIB, klub mengajak Bobotoh merawat stadion sebagaimana mereka menjaga kebanggaan di dada.
Membuang sampah pada tempatnya, mengikuti arahan petugas, serta menjaga fasilitas stadion dipandang sebagai bentuk dukungan yang tak kalah penting dari nyanyian panjang di tribun.
Sebab pada akhirnya, cinta kepada klub bukan hanya tentang seberapa keras bersorak, melainkan juga tentang seberapa sungguh menjaga rumahnya tetap bermartabat.
