Dalam perspektif penyelenggara, dzikir tidak ditempatkan semata sebagai praktik individual, tetapi sebagai energi sosial kolektif yang memiliki implikasi luas terhadap kehidupan berbangsa.
Zikir dipahami sebagai mekanisme pembentukan kesadaran batin yang berdampak pada perilaku sosial—mendorong sikap rendah hati, solidaritas, empati, serta kemampuan menahan konflik. Dalam skala yang lebih luas, nilai-nilai ini berkontribusi pada penguatan kohesi sosial dan stabilitas nasional.
Kegiatan ini juga menjadi ruang konsolidasi antara ulama, umara, dan masyarakat dalam merespons berbagai tantangan kebangsaan, mulai dari krisis moral, polarisasi sosial, hingga melemahnya kepercayaan publik terhadap institusi.
Baca Juga:Jangan Sampai Motor Tak Bisa Nyala! Ini Tips Aman Menggunakan Honda Smart Key Agar Tetap Optimal dan AmanKebersamaan dalam Keakraban: CB150X ADV ID Chapter Bekasi Raya Gelar Family Gathering Season 3 di Bogor
Spiritualitas dan Nasionalisme dalam Satu Kerangka
Salah satu gagasan penting yang diperkenalkan dalam kegiatan ini adalah konsep Penghulu Pesantren Ketahanan Nasional (PPKN), yaitu model integratif yang menghubungkan spiritualitas tasawuf dengan agenda kebangsaan.
Konsep ini berangkat dari realitas historis bahwa pesantren dan tarekat tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan keagamaan, tetapi juga sebagai institusi sosial yang berperan dalam menjaga stabilitas masyarakat dan membentuk karakter bangsa.
Melalui pendekatan ini, spiritualitas tidak diposisikan sebagai wilayah privat semata, tetapi sebagai fondasi etik bagi kehidupan publik. Dalam kerangka tersebut, nilai-nilai tasawuf seperti keikhlasan, pengendalian diri, dan cinta kasih diterjemahkan ke dalam praktik sosial yang konkret.
Kegiatan ini juga mengangkat nilai-nilai 9 Pilar Peradaban Dunia, yang mencakup prinsip penghormatan, kasih sayang, anti-konflik, integritas moral, serta keseimbangan antara kehidupan lahir dan batin. Nilai-nilai ini diharapkan menjadi dasar dalam membangun masyarakat yang harmonis dan berkeadaban.
Mendorong Kesadaran Kolektif dan Tradisi Baru
Melalui kegiatan ini, panitia berharap lahir kesadaran baru di tengah masyarakat bahwa kemerdekaan Indonesia tidak hanya memiliki dimensi historis, tetapi juga dimensi spiritual yang perlu dirawat secara berkelanjutan.
Momentum 9 Ramadhan diharapkan dapat berkembang menjadi ruang refleksi kolektif tahunan yang memperkuat nilai kebangsaan, mempererat ukhuwah, serta membangun orientasi peradaban yang lebih berakar pada etika dan spiritualitas.
Dalam jangka panjang, inisiatif ini juga membuka kemungkinan lahirnya tradisi baru dalam kehidupan keagamaan dan kebangsaan Indonesia—sebuah praktik memperingati kemerdekaan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga reflektif dan transformatif. (rls)
