JAKARTA, RADARTASIK.ID – Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia selama ini lebih dikenal dan dirayakan dalam kalender Masehi setiap 17 Agustus. Namun secara historis, Proklamasi Kemerdekaan 1945 juga bertepatan dengan 9 Ramadan 1367 Hijriyah, sebuah momentum yang menyimpan dimensi spiritual yang kuat, tetapi belum sepenuhnya dihidupkan dalam kesadaran kolektif umat Islam Indonesia.
Berangkat dari kesadaran tersebut, Keluarga Besar Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) Suryalaya Sirnarasa telah menyelenggarakan kegiatan “Zikir & Do’a Bersama Pengajian Anti Gempa – Manaqib Syekh Abdul Qadir al-Jailani” di kawasan bersejarah Tugu Proklamasi, Jakarta, pada Jumat 27 Februari 2026.
Kegiatan yang dipimpin langsung oleh Mursyid TQN Suryalaya Sirnarasa Syeikh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul (Abah Aos) ini mengusung tema:
Baca Juga:Jangan Sampai Motor Tak Bisa Nyala! Ini Tips Aman Menggunakan Honda Smart Key Agar Tetap Optimal dan AmanKebersamaan dalam Keakraban: CB150X ADV ID Chapter Bekasi Raya Gelar Family Gathering Season 3 di Bogor
“Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Indonesia: Untuk Kejayaan Agama & Negara serta Peradaban Dunia.”
Lebih dari sekadar agenda keagamaan, kegiatan yang dihadiri ribuan Ikhwan tarekat dari berbagai daerah ini dirancang sebagai ruang refleksi kebangsaan yang menghubungkan kembali sejarah kemerdekaan Indonesia dengan akar spiritualitasnya.
Mengembalikan Dimensi Spiritual Kemerdekaan
Ketua Panitia Pengarah kegiatan, KH Budi Rahman Hakim MSW PhD, menegaskan bahwa narasi kemerdekaan Indonesia selama ini cenderung direduksi pada aspek politik dan perjuangan fisik, sementara dimensi spiritualnya belum mendapatkan tempat yang memadai dalam ruang publik.
“Proklamasi kemerdekaan tidak lahir dalam ruang kosong. Ia hadir dalam suasana Ramadhan, di tengah praktik ibadah, doa, dan dzikir. Ini menunjukkan bahwa kemerdekaan Indonesia memiliki fondasi spiritual yang kuat,” ujarnya.
Menurutnya, menghidupkan kembali 9 Ramadhan bukan sekadar menambah kalender peringatan, tetapi merupakan upaya merekonstruksi ingatan kolektif bangsa agar tidak tercerabut dari akar nilai-nilai keimanan, pengorbanan, dan persatuan.
Dalam konteks ini, 17 Agustus dan 9 Ramadhan bukanlah dua momentum yang saling menggantikan, melainkan dua lapisan yang saling melengkapi: satu bersifat kenegaraan, yang lain bersifat spiritual.
Zikir sebagai Energi Sosial dan Ketahanan Bangsa
Rangkaian kegiatan akan dimulai sejak dini hari dengan khataman Al-Qur’an, shalat berjamaah, pembacaan manaqib, dzikir bersama, hingga khidmah ilmiah yang menghadirkan para ulama dan tokoh nasional.
