BANJAR, RADARTASIK.ID – Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang biasanya menjadi momentum peningkatan penjualan justru belum membawa dampak signifikan bagi pedagang pakaian di Pasar Banjar. Tiga pekan menjelang lebaran, jumlah pembeli masih sepi dan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Edi, salah seorang penjual pakaian di Pasar Banjar, mengeluhkan minimnya pengunjung yang datang ke kiosnya.
“Ini pengunjungnya juga tidak ada (sepi), bagaimana mau ada yang beli baju lebaran,” ujarnya, Rabu (25/02/2026).
Baca Juga:Dahlan Iskan Menangkan Gugatan Lawan Jawa Pos soal Kepemilikan Saham Radar BogorDiduga Akun ASN Kota Tasikmalaya Jadi “Buzzer Dadakan” Bela soal Video Bapelitbangda!
Menurut dia, kondisi tersebut membuatnya tidak berani menyetok banyak pakaian lebaran. Ia khawatir tidak memperoleh keuntungan jika memaksakan menambah stok di tengah lesunya daya beli.
“Kita berharap ada perubahan, tidak seperti ini terus (sepi) setidaknya di tahun ini ada peningkatan omset seperti tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Edi juga mengaku belum beralih ke penjualan daring karena keterbatasan pegawai, sehingga tetap mengandalkan penjualan langsung di kios.
Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Banjar, Sukmana, menyampaikan keprihatinan atas kondisi pasar yang sepi menjelang lebaran.
“Lihat saja para pedagang pada ngeluh sepinya pembeli, padahal dua tahun ke belakang masih ramai yang beli baju lebaran di pasar,” ungkapnya.
Ia menyebut, sepinya pembeli berdampak pada banyaknya pedagang yang memilih berhenti berjualan. Sejumlah kios pakaian terlihat tutup.
“Kios (pakaian) yang tutup ada sekitar 35 persen, kalau tutup permanen (tidak berjualan lagi) sekitar 30 persen. Mereka memilih tidak berjualan di pasar,” ujarnya.
Baca Juga:Video Unboxing Bapelitbangda Kota Tasikmalaya Dihapus, Sensitivitas Dipertanyakan!Tasikmalaya Kaget, Lagi!
Sukmana menilai gagasan yang sempat dicetuskan dinas terkait belum berdampak signifikan dalam meningkatkan jumlah pengunjung ke Pasar Banjar.
Menurutnya, program tersebut memiliki tujuan baik, tetapi kurang sosialisasi sehingga tidak mampu menarik masyarakat datang ke pasar.
“Harus ada gebrakan baru dari pemerintah untuk memperhatikan kami para pedagang bisa ramai berjualan seperti sebelum-sebelumnya,” ujarnya. (Anto Sugiarto)
