“Saya sekarang ada di rumah Pak Muslihin. Sudah lima bulan beliau tinggal di tenda darurat karena rumahnya hampir ambruk,” tuturnya.
Menurut Jarwo, beberapa dinas sudah dihubungi. Proposal sudah jalan. Surat sudah berangkat. Tapi hasilnya masih sebatas kabar angin.
“Sampai sekarang belum ada realisasi bantuan rumah layak. Padahal pihak RT, RW, kelurahan sudah mencoba ke instansi terkait. Katanya sudah ditempuh, tapi belum ada hasil. Pak Muslihin mengungsi karena rumahnya bocor dan dikhawatirkan ambruk kalau hujan,” jelasnya.
Baca Juga:Ventilator RSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya yang “Bangun Tidur”Kota Tasikmalaya Ngos-Ngosan, APBD Susut: Air Putih Resmi Naik Kelas, Gorengan Turun Kasta!
Jarwo bahkan menyebut kondisi Muslihin hanyalah satu contoh kecil. Di Tamansari, menurutnya, masih banyak rumah warga dengan nasib serupa—bahkan lebih parah.
“Ini cuma satu kasus. Ada ratusan di Tamansari yang kondisinya seperti ini,” katanya.
Ia pun menyentil Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan agar lebih peka terhadap realitas warganya.
Hingga kini, Muslihin dan istrinya masih bertahan di tenda darurat. Setiap hujan turun, mereka kembali diingatkan bahwa rumah bukan sekadar bangunan, tapi rasa aman.
Dan rasa aman itu kini tertunda oleh waktu, prosedur, dan antrean bantuan.
Di Kota Tasikmalaya, cerita tentang pembangunan sering terdengar lantang. Tapi di Kampung Babakan, yang terdengar justru suara hujan di atas terpal.
Lima bulan sudah berlalu. Rumah belum kembali berdiri. Yang berdiri hanya harapan—tipis, tapi belum roboh.
Baca Juga:PJU Padam Bertahun-tahun di Kawalu Kota Tasikmalaya, Warga Bertanya: Lagi Hemat Energi atau Lupa Dipelihara?Gunung Jati Group Santuni 600 Anak Yatim di Kota Tasikmalaya, Ramadan Jadi Tabungan Akhirat
Seperti rumah panggung yang ingin dibangun kembali: sederhana, tapi cukup untuk membuat dua orang lansia tidur tanpa waswas saat langit berubah warna. (ayu sabrina barokah)
