PANGANDARAN, RADARTASIK.ID – Menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bulan Ramadhan kini sedang menuai sorotan. Sebagian menilai makanan yang tersaji tidak sesuai harapan.
Polemik mencuat setelah beredarnya video dan tangkapan layar percakapan di media sosial, terutama Facebook dan grup WhatsApp, yang memperlihatkan isi paket MBG yang diterima masyarakat.
Dalam satu video yang beredar, seorang pria menunjukkan paket MBG berisi telur rebus, roti, serta tiga butir kurma yang dibungkus plastik kecil.
Baca Juga:Padel Mengubah Peta Bisnis di Kota Tasikmalaya: Nongkrong dan Hitung-Hitungannya!Saat Pecinta Vespa SOG Indonesia Chapter Tasikmalaya, Satu Lesehan Membedah Kelas Trading di Pondok Pesantren!
Unggahan lain menampilkan menu serupa berupa telur rebus, roti, dan kacang tanah dalam kemasan plastik sederhana.
Sementara itu, paket yang disebut untuk bagi ibu hamil dan ibu menyusui dilaporkan hanya berisi satu buah jeruk, roti, dan kue kecil.
Keberagaman menu itu memicu keluhan warganet. Sejumlah akun Facebook menyampaikan kekecewaan dan mempertanyakan kualitas serta kelayakan program tersebut.
Komentar bernada keras pun bermunculan. Sebagian warganet menduga program MBG berpotensi menjadi celah praktik korupsi.
Salah seorang warga Pangandaran yang enggan disebutkan namanya, mempertanyakan menu yang dibagikan sudah memenuhi standar kecukupan gizi.
“Karena program ini tidak hanya menyasar pelajar, tetapi juga kelompok rentan seperti ibu hamil dan ibu menyusui, apakah memenuhi kebutuhan gizi,” ujarnya kepada Radar Rabu (25/6/2026).
Tedi Yusnanda dari Sarasa Institute dan Aliansi Masyarakat Pangandaran ikut mengomentari kondisi program MBG hari ini. Ia mengatakan bahwa program ini lahir dari gagasan besar pemerintahan Prabowo Subianto dengan tujuan memperbaiki gizi, menurunkan stunting, menyiapkan generasi emas.
Baca Juga:Unboxing Perencanaan Ala Bapellitbangda Kota Tasikmalaya di Bulan Pengendalian Diri!Cegah Anak Jadi Korban Child Grooming, Mahasiswa KKN UNIK Cipasung Lakukan Edukasi Area Privasi
“Ide yang tak mungkin ditolak kecuali oleh mereka yang alergi pada masa depan. Di atas kertas, semuanya tampak bersih. Anggaran dihitung,Kalori ditakar, Protein dicatat. Bahkan mungkin vitamin pun punya tabelnya sendiri,” katanya.
Dia menilai bahwa letak gizi program ini bukan di piring, melainkan di margin.”Para pengusaha, yang tentu saja sah berusaha, menimbang bukan hanya beras dan ayam, tetapi juga selisih. Mereka memberi makan dengan satu tangan dan menghitung dengan tangan yang lain. Dalam dunia usaha, itu rasional. Dalam dunia anak-anak, ia terasa ironis,” ucapnya.
