Mahasiswa Terus Bergerak di Kota Tasikmalaya: Aksi Kamisan Bawa Duka, BEM Soroti Kinerja Pemerintahan

aksi Kamisan mahasiswa di Kota Tasikmalaya soroti kinerja wali kota
Kolase Aksi Kamisan di Alun-Alun dengan Aliansi BEM Se-Tasikmalaya di depan Bale Kota, Kamis (26/2/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

Janji Politik, Koordinasi, hingga Sampah

Dalam pernyataan sikapnya, mahasiswa mengungkit berbagai isu di Kota Tasikmalaya yang dinilai sudah berdampak luas.

Mulai dari janji politik kepala daerah yang disebut mencapai 18–19 program kerja, termasuk tujuh hingga delapan program prioritas yang dinilai belum terlihat hasilnya.

Selain itu, mereka menyoroti persoalan komunikasi di internal Pemerintah Kota Tasikmalaya. Menurut mereka, koordinasi antara wali kota dan wakil wali kota belum solid, sehingga polemik kerap muncul ke ruang publik.

Baca Juga:RSUD Dewi Sartika Disebut Monumen Gagal Rencana, Aktivis NU Soroti Proyek Kesehatan di Kota TasikmalayaKapolda Jabar Ingatkan Asrama Polisi Bojong Kota Tasikmalaya Bukan Kos-Kosan, Tapi Amanah

Isu pengelolaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) juga menjadi sasaran kritik. Persoalan lingkungan dan sampah disebut sebagai contoh konkret problem tata kelola yang belum tertangani serius.

“Pada dasarnya, ketika wali kota tidak bisa menjaga stabilitas Kota Tasikmalaya, maka kami minta untuk turun,” ujar Dede.

Saat diminta merangkum kondisi pemerintahan saat ini dalam satu kata, ia menjawab singkat namun pedas: “Tasik Teusik.”

Aksi Aliansi BEM Se-Tasik Raya diikuti perwakilan dari 23 kampus swasta di wilayah kota dan kabupaten.

Demonstrasi berlangsung dengan orasi dan pernyataan sikap secara bergantian, di bawah pengawalan aparat.

Dari duka nasional hingga kritik lokal, Kamis sore di Kota Tasikmalaya berubah menjadi panggung gugatan: kepada kekerasan aparat, dan kepada pemimpin daerah yang dinilai lebih sering menghilang daripada mendengar. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar