RADARTASIK.ID – Juventus memang harus mengucapkan selamat tinggal pada Liga Champions UEFA musim ini.
Namun mereka melakukannya dengan kepala tegak. Di Allianz Stadium Turin, Bianconeri menang 3-2 atas Galatasaray, tetapi hasil tersebut belum cukup untuk membalikkan agregat setelah kekalahan telak 2-5 di leg pertama.
Alih-alih cemoohan, para tifosi justru memberikan tepuk tangan panjang.
Mereka menyaksikan tim asuhan Luciano Spalletti bermain menyerang tanpa rasa takut, bahkan ketika harus tampil dengan sepuluh pemain.
Baca Juga:Diwarnai Tangisan Thuram, Juventus Paksa Galatasaray ke Babak Perpanjangan WaktuAtalanta Lolos ke Babak 16 Besar Liga Champions, Palladino: Ini Sejarah bagi Sepak Bola Italia
Galatasaray kini melaju ke babak 16 besar dan akan menghadapi Liverpool atau Tottenham pada undian Jumat nanti. Sementara Juventus harus mengalihkan fokus ke Serie A.
Dalam kondisi tertinggal agregat besar, Spalletti memilih pendekatan ofensif.
Ia tak menurunkan Bremer sejak menit pertama, memainkan Yildiz, serta memberi kesempatan kepada Perin di bawah mistar menggantikan Di Gregorio.
Di kubu tamu, pelatih Okan Buruk kembali mengandalkan Victor Osimhen di lini depan, didukung Lemina yang kembali dari skorsing.
Juventus memulai laga dengan intensitas tinggi. Tekanan demi tekanan akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-37.
Manuel Locatelli mencetak gol melalui titik penalti setelah Torreira melanggar Khephren Thuram di kotak terlarang. Stadion pun bergemuruh, harapan mulai tumbuh.
Awal babak kedua menjadi titik balik dramatis. Kelly, yang sudah mengantongi kartu kuning, melakukan pelanggaran terhadap Baris Yilmaz.
Wasit awalnya memberi kartu kuning kedua, namun setelah tinjauan VAR, hukuman ditingkatkan menjadi kartu merah langsung.
Baca Juga:Arrigo Sacchi: Tersingkir dari Liga Champions Ganggu Peluang Inter Raih ScudettoInter Kehilangan Pemasukan Rp1 Triliun Usai Tersingkir dari Liga Champions, 3 Pemain Terancam Dijual
Situasi tersebut tak membuat Spalletti mengubah filosofi. Justru sebaliknya, ia tetap meminta timnya menekan dan menyerang.
Keberanian itu berbuah manis. Federico Gatti menggandakan keunggulan menjadi 2-0 pada menit ke-70.
Tekanan tak berhenti. Pada menit ke-82, Weston McKennie mencetak gol ketiga yang membuat skor menjadi 3-0 dan memaksa laga berlanjut ke perpanjangan waktu. Stadion Turin bergemuruh, para pendukung berdiri memberi semangat.
Perpanjangan Waktu yang Kejam
Meski kalah jumlah pemain, Juventus tetap bermain agresif di babak tambahan. Spalletti tidak menarik timnya terlalu dalam. Filosofi menyerang tetap dipertahankan.
Zhegrova sempat memiliki peluang emas untuk menjadikan skor 4-0. Namun kesempatan itu terbuang.
