Menariknya, Thuram menjadi salah satu orang yang paling bahagia di bangku cadangan.
Ia berdiri, bertepuk tangan, lalu dipeluk oleh rekan-rekannya yang memahami betul betapa berat beban yang baru saja ia rasakan.
Gol McKennie bukan hanya memperlebar keunggulan, tetapi juga menjadi semacam pelipur lara bagi Thuram.
Baca Juga:Atalanta Lolos ke Babak 16 Besar Liga Champions, Palladino: Ini Sejarah bagi Sepak Bola ItaliaArrigo Sacchi: Tersingkir dari Liga Champions Ganggu Peluang Inter Raih Scudetto
Pertandingan ini menjadi bukti mentalitas kuat Juventus. Bermain dengan sepuluh orang, menghadapi tekanan emosional, dan tetap mampu menjaga fokus hingga unggul 3-0 adalah gambaran kedewasaan tim.
Bianconeri memang sempat melalui fase sulit—kartu merah, peluang terbuang, dan tekanan psikologis—namun mereka menunjukkan karakter sebagai klub besar Eropa.
Di balik gol dan taktik, malam itu juga menyisakan cerita tentang air mata seorang gelandang muda yang terlalu keras menyalahkan dirinya sendiri.
Dan tentang bagaimana sepak bola, pada akhirnya, adalah permainan kolektif: satu kesalahan Juventus pun memaksa laga berlanjut ke babak perpanjangan, sementara tangisan Thuram berubah menjadi pelajaran berharga dalam perjalanan kariernya.
