Agar nilai tersebut tidak berhenti pada ceramah, sekolah menerapkan pola pembiasaan berkelanjutan. Materi kultum disampaikan setiap hari setelah salat dzuhur dengan pendampingan guru PAI dan OSIS. Siswa juga diwajibkan mengisi Buku Ramadan sebagai refleksi harian yang ditandatangani wali kelas.
Program ini juga mencakup gerakan Rantang Kanyaah dan infak harian sebagai bagian dari pembentukan empati sosial.
“Harapannya, kebiasaan baik ini tidak hanya berlangsung selama Ramadan, tetapi terus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat luas,” ujarnya.
Baca Juga:Presiden Prabowo Memilih Empati!Koperasi Desa Merah Putih Bakal Gantikan Alfamart-Indomaret?
Pesantren ekologi tersebut juga mendapat respons positif dari para siswa. Tsany Mussayyad, siswa kelas XII AKCG, menilai kegiatan itu memberi makna lebih dalam bagi pelaksanaan Ramadan di sekolah.
“Menurut saya kegiatan pesantren ekologi ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai siswa karena di bulan ramadhan kita lebih banyak melakukan hal positif selain belajar di sekolah kita juga lebih meningkatkan ibadah kita dengan tadabur alam, mengenali alam dan merawat ciptaan Allah SWT melalui aksi ekologi, meningkatkan rasa empati kita terhadap sesama melalui program rantang kanyaah dan program lainya,” ujarnya.
Wildan, siswa kelas XII TJAT, juga merasakan dampak positif dari rangkaian kegiatan tersebut. Ia menyebut program itu memberi ruang bagi siswa untuk belajar dan berkontribusi selama Ramadan.
“Kegiatan pesantren ekologi ini merupakan kegiatan yang sangat baik dan berdampak positif juga selama bulan ramadhan di sekolah karena di dalamnya kita bisa belajar berbagai hal dari mulai mendengarkan kajian, sampai ke program program sedekah seperti Poe ibu, dan kegiatan kegiatan lainnya,” ujarnya. (Fitriah Widayanti)
