TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Ramadan di SMK Bina Putera Nusantara (BPN) Tasikmalaya tahun ini tidak hanya diisi penguatan ibadah, tetapi juga aksi merawat lingkungan.
Pesantren Ekologi 2026 yang digagas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat mulai diimplementasikan di sekolah tersebut dengan pendekatan yang disesuaikan dengan karakter satuan pendidikan.
SMK BPN mulai menjalankan program tersebut pada Senin (23/2/2026) dan dibuka secara langsung oleh kepala sekolah, Sri Pujiani MPd.
Baca Juga:Presiden Prabowo Memilih Empati!Koperasi Desa Merah Putih Bakal Gantikan Alfamart-Indomaret?
Sejak hari pertama, pembiasaan dimulai melalui KAROMAH atau Kegiatan Amaliyah Ramadan di Rumah yang dilaksanakan masing-masing siswa dari kediamannya.
Setelah itu, setibanya di sekolah, seluruh siswa mengikuti salat duha berjamaah, tadarus Al-Qur’an, serta gerakan infak harian Poe Ibu atau Sapoe Sarebu yang dipusatkan di Masjid Riyadul Jannah yang berada di lingkungan sekolah.
Menurut Waka Kesiswaan SMK BPN, Dedi Saripgani MHum, rangkaian ibadah itu menjadi penguat sebelum siswa masuk ke tahap aksi.
Ia menyebut suasana religius semakin terasa saat salat dzuhur berjamaah dilanjutkan kultum bertema Niti Harti dan Niti Surti yang menekankan nilai keikhlasan dan kepedulian.
Usai penguatan spiritual, kegiatan berlanjut ke aksi ekologi atau Niti Bakti. Pada pekan pertama, kata Dedi, para siswa bergotong royong membersihkan lingkungan sekolah secara bergiliran, mulai dari ruang kelas hingga lapangan dan area masjid.
Pada pekan berikutnya, tiap kelas diminta untuk membawa lima jenis tanaman obat keluarga (TOGA) seperti jahe, kunyit, kencur, sereh, dan lidah buaya untuk ditanam di titik yang telah ditentukan.
Tanaman itu tidak dibiarkan begitu saja. Siswa bertanggung jawab untuk menyiram, merawat, sekaligus memberi label nama dan fungsi.
Baca Juga:Mahasiswa UMB Manfaatkan Teknologi AIoT untuk Tekan Kematian Ikan Gurame di Wargakerta Tasikmalaya1 Maret 2026, Scooter Tasikmalaya Club Berbagi Bareng 100 Anak Yatim dan Jompo!
“Dengan demikian, aksi ekologi ini tidak bersifat simbolis, melainkan menjadi praktik pembelajaran kontekstual yang berkesinambungan,” ujar Dedi.
Ia menambahkan, aksi tersebut menjadi bagian dari upaya menerjemahkan nilai yang disampaikan dalam kultum ke dalam kegiatan nyata.
Dalam Pesantren Ekologi, nilai itu dirumuskan melalui Niti Harti dan Niti Surti. Niti Harti menekankan keikhlasan dan kesadaran diri, sedangkan Niti Surti mengajak siswa peka terhadap lingkungan dan sesama.
