Nicolo Barella, yang sempat dimainkan di kiri lalu kembali ke posisi naturalnya di kanan, memperlihatkan semangat dan jiwa kepemimpinan.
Namun determinasi itu tak selalu diimbangi kejernihan dalam mengambil keputusan. Sementara Federico Dimarco tetap konsisten di sisi kiri, meski tanpa assist atau gol penentu.
Di lini depan, sorotan tajam tertuju pada duet penyerang yang berada di bawah bayang-bayang legenda seperti Christian Vieri dan Ronaldo Nazario.
Baca Juga:Hubungan dengan Ibrahimovic Mulai Renggang, Allegri Siap Tinggalkan AC MilanIngin Pulang Kampung, Paulo Dybala Akan Tinggalkan AS Roma
Francesco Pio Esposito menunjukkan semangat juang tinggi, memenangi duel-duel udara, tetapi kurang akurat dalam penyelesaian akhir.
Sebaliknya, Marcus Thuram justru tampil jauh dari ekspektasi—mengecewakan dan nyaris tanpa dampak signifikan.
Sabatini menyebut tiga nama paling berpengalaman—Akanji, Barella, dan Thuram—sebagai simbol kekecewaan malam itu.
“Upacara penutupan Interiadi di Liga Champions telah berlangsung,” tulisnya dengan nada getir.
Kini, Inter tak punya pilihan selain bangkit. Kompetisi domestik masih terbuka lebar. Jika mampu mengalihkan energi dan fokus sepenuhnya ke Serie A, scudetto tetap berada dalam jangkauan.
Kegagalan di Eropa harus menjadi pelajaran, bukan luka yang berkepanjangan.
