Sandro Sabatini: Inter Tersingkir dari Liga Champions dengan Cara yang Sangat Buruk

Sandro Sabatini
Sandro Sabatini Foto: Tangkapan layar Instagram@sandrosabatini
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Inter Milan harus menelan pil pahit setelah disingkirkan Bodo/Glimt di babak play-off Liga Champions dini hari tadi.

Kekalahan di Norwegia tak mampu dibalas saat leg kedua di San Siro, membuat langkah Nerazzurri terhenti lebih cepat dari yang diperkirakan banyak pihak.

Jurnalis senior Italia, Sandro Sabatini, dalam kolom editorialnya di Calciomercato, menilai Inter harus segera melupakan kegagalan ini dan mengalihkan fokus penuh ke perburuan scudetto.

Baca Juga:Hubungan dengan Ibrahimovic Mulai Renggang, Allegri Siap Tinggalkan AC MilanIngin Pulang Kampung, Paulo Dybala Akan Tinggalkan AS Roma

Menurutnya, tidak ada perayaan, tidak ada festival di San Siro karena kiprah Inter di Liga Champions berakhir buruk—bahkan sangat buruk.

Sabatini menegaskan Bodo/Glimt bukan tim yang pantas diremehkan dan telah membuktikan diri sebagai lawan tangguh.

Namun secara kualitas skuad dan pengalaman, Inter tetap dinilai berada di level yang lebih tinggi.

Karena itu, kegagalan ini terasa makin menyakitkan.

Di bawah arahan pelatih Cristian Chivu, Inter sebenarnya tampil cukup menjanjikan di babak pertama, baik di leg pertama maupun leg kedua.

Namun pola yang sama kembali terulang: performa menurun drastis di babak kedua. Konsistensi menjadi masalah utama, baik secara kolektif maupun individu.

Di lini belakang, Yann Sommer tampil sigap di awal laga, mengingatkan publik pada performa gemilangnya di masa lalu.

Ia melakukan beberapa penyelamatan penting dari tekanan awal wakil Norwegia. Namun ketika gol-gol tercipta, Sommer tak banyak bisa berbuat.

Baca Juga:Unggah Foto yang Menyinggung di Instagram, Bek Real Madrid Minta Maaf ke Rakyat ChinaJoan Laporta: Barcelona Tolak Tawaran Rp4,25 Triliun dari PSG untuk Lamine Yamal

Duet bek tengah juga menuai sorotan. Yann Aurel Bisseck tampil cukup waspada di area pertahanan, meski kontribusinya dalam membantu serangan minim.

Sementara itu, kesalahan fatal dari Manuel Akanji di momen krusial menjadi titik balik yang menentukan nasib pertandingan, hasil akhir, bahkan moral tim.

Di sisi lain, Alessandro Bastoni menjadi pengecualian, tampil relatif stabil dan bahkan mencetak gol yang sempat memberi harapan.

Di sektor sayap, Luis Henrique menunjukkan progres positif lewat umpan-umpan silangnya dari kanan.

Ia didukung energi Davide Frattesi, yang sempat melepaskan sundulan berbahaya di babak pertama, meski kemudian terlalu sering melakukan kesalahan.

Lini tengah memperlihatkan dinamika menarik. Piotr Zielinski menunjukkan kedewasaan taktis, namun stamina dan pengaruhnya menurun seiring waktu.

0 Komentar