TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ramadan biasanya identik dengan pengajian. Dengan kitab. Dengan sarung yang digelar rapi. Tapi di Pesantren Al Hikmah, Sumelap, Kota Tasikmalaya, pada 23 Februari 2026. Dalam ramadan kali ini punya aroma yang berbeda. Ada bau oli tipis-tipis. Ada cerita karburator. Dan ada istilah yang jarang terdengar di pesantren: class trading.
Yang menginisiasi bukan lembaga pendidikan formal. Bukan pula instansi pemerintah. Melainkan sekelompok pecinta Vespa. Namanya Scooter Owner Group (SOG) Indonesia Chapter Tasikmalaya.
Mereka menyebutnya Pesantren Kilat Ramadan. Tapi isinya tidak sesingkat namanya. Di sana, spiritualitas tidak berdiri sendiri. Ia duduk lesehan bersama pengetahuan praktis, jejaring komunitas, dan bahkan literasi ekonomi.
Baca Juga:Unboxing Perencanaan Ala Bapellitbangda Kota Tasikmalaya di Bulan Pengendalian Diri!Cegah Anak Jadi Korban Child Grooming, Mahasiswa KKN UNIK Cipasung Lakukan Edukasi Area Privasi
Yang paling unik tentu kelas trading itu. Disampaikan oleh KH Ricky Assegaf. Seorang kiai. Mengajar soal ikhtiar finansial. Di lingkungan pesantren. Tidak dengan jargon berisik. Tidak dengan janji cepat kaya. Tapi dengan logika, etika, dan kesadaran risiko.
Pesan yang ingin disampaikan sederhana: agama tidak memusuhi pengetahuan baru. Selama niatnya lurus dan caranya benar.
Ketua SOG Indonesia Chapter Tasikmalaya, Tantan Ridwan, tampak paham betul ruh kegiatan ini. Baginya, komunitas Vespa bukan hanya soal motor tua yang dirawat penuh cinta. Tapi juga tentang manusia di balik setang.
“Kami ingin memperluas jaringan dan memperkuat komunitas. Supaya berbagi pengetahuan dan pengalaman itu jadi lebih mudah,” katanya.
Pengetahuan yang dimaksud bukan cuma soal jalan jauh atau mesin bandel. Tapi juga keterampilan merawat, memodifikasi, dan memperbaiki Vespa. Motor yang umurnya sering lebih tua dari pemiliknya itu memang menuntut kesabaran. Dan kesabaran, seperti Ramadan, butuh latihan.
Sekretaris SOG Chapter Tasikmalaya, Opik Taupikul Haq, menambahkan lapisan yang lebih dalam. Menurutnya, merawat Vespa adalah latihan tanggung jawab.
“Kesadaran dan tanggung jawab itu penting. Supaya Vespa lebih awet dan aman digunakan,” ujarnya.
Baca Juga:Operasional RSUD Dewi Sartika Bisa Jadi Pemborosan, Lebih Bermanfaat Dijadikan Rumah Dinas Wali KotaBSI Resmi Berstatus Persero: Tangguh di Layanan Pembiayaan Konsumer dan Ritel
Dari sana, kreativitas tumbuh. Modifikasi bukan lagi soal pamer. Tapi ekspresi. Inovasi bukan sekadar gaya. Tapi solusi. Komunitas pun jadi lebih beragam. Lebih hidup.
Dan tentu saja, ada sisi sosial yang tidak dilupakan. Pesantren kilat ini bukan hanya mempertemukan Vespa dengan pesantren, tapi juga mempertemukan manusia dengan manusia. Menguatkan ikatan. Menjahit persaudaraan. Tanpa harus satu profesi. Tanpa harus satu latar belakang.
