Dari berbagai sumber yang didapat Rafar, total biaya perizinan dan administrasi bisa menghabiskan puluhan hingga ratusan juta rupiah, tergantung lokasi dan kelengkapan. Angka pastinya jarang disebut terang-terangan. Biasanya hanya disebut: “yang penting beres.”
Di sinilah Lapangan padel berdiri rapi, kacanya kinclong, tapi warga sekitar masih bertanya-tanya: “Ini olahraga atau investasi berkedok olahraga?”
Uang tidak hanya dari sewa lapangan. Sebab padel bukan cuma soal memukul bola. Pengusaha cepat belajar: Ada kelas pelatihan untuk pemula, Ada turnamen kecil berhadiah sponsor, Ada kerja sama brand olahraga, Ada kafe dan minuman isotonic yang harganya lebih melelahkan daripada olahraganya.
Baca Juga:Saat Pecinta Vespa SOG Indonesia Chapter Tasikmalaya, Satu Lesehan Membedah Kelas Trading di Pondok Pesantren!Unboxing Perencanaan Ala Bapellitbangda Kota Tasikmalaya di Bulan Pengendalian Diri!
Padel lalu berubah fungsi. Dari lapangan olahraga menjadi ruang sosial kelas menengah baru. Tempat bertukar keringat, kartu nama, dan rencana bisnis.
Tasikmalaya berubah, tanpa banyak suaraYang menarik, semua ini terjadi tanpa hiruk-pikuk. Padel diterima begitu saja. Mungkin karena tidak bising. Mungkin karena tidak merusak. Atau mungkin karena orang-orang melihat satu hal: ini peluang uang yang bersih dan modern.
Kota Tasikmalaya sedang belajar satu hal baru, bahwa di kota ini, sekarang, yang membludak bukan hanya pesantren dan UMKM—tapi juga lapangan padel. Dan seperti biasa, bola terus memantul.Uangnya juga. (red)
