Padel Mengubah Peta Bisnis di Kota Tasikmalaya: Nongkrong dan Hitung-Hitungannya!

Bisnis padel kota tasikmalaya
Ilustrasi bisnis padel
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kota Tasikmalaya sedang menemukan mainan baru. Namanya padel. Olahraga impor. Raketnya mirip tenis, lapangannya seperti kandang versi modern, dan pemainnya kebanyakan—datang bukan untuk berkeringat saja, tapi untuk nongkrong sambil berkeringat.

Belum genap setahun, kota yang identik dengan bordir, santri, dan sandal jepit ini mendadak dilirik para pengusaha. Bukan pengusaha batik. Bukan pengusaha kelapa. Tapi pengusaha lapangan padel.

Mereka hadir berbondong-bondong. Seperti antrean izin kafe beberapa tahun lalu. Bedanya, ini lebih silent. Tidak pakai musik keras. Yang terdengar hanya tok-tok bola memantul ke dinding kaca.

Baca Juga:Saat Pecinta Vespa SOG Indonesia Chapter Tasikmalaya, Satu Lesehan Membedah Kelas Trading di Pondok Pesantren!Unboxing Perencanaan Ala Bapellitbangda Kota Tasikmalaya di Bulan Pengendalian Diri!

Kenapa semua ingin bikin lapangan padel?Jawabannya sederhana: hitung-hitungan di atas kertas terlalu menggoda untuk diabaikan.

Modal awal memang bikin kening berkerut. Tapi setelah itu, angka-angka mulai tersenyum.

Mari kita buka kalkulator dari berbagai sumber yang dihimpun Radar, untuk dua lapangan padel. Sewa lahan dua tahun dikisaran Rp 600 juta.

Dengan Konstruksi dua lapangan (kaca, rumput sintetis, rangka baja): Rp 2 miliar. Ditambah Fasilitas tambahan (toilet, ruang ganti, lampu, parkir): Rp 200 juta. Lalu Marketing dan operasional awal: Rp 200 juta. Total investasi awal: diprediksi sekitar Rp 3 miliar.

Angka ini sering disebut “mahal”. Tapi di dunia pengusaha, mahal itu relatif. Apalagi ketika pendapatannya terlihat begini: Tarif sewa lapangan rata-rata Rp 400 ribu per jam. Jika satu lapangan terpakai 6 jam per hari (ini angka konservatif, kata para pengusaha), maka: 2 lapangan × 6 jam × Rp 400 ribu × 30 hari = Rp 144 juta per bulan.

Kemudian Biaya operasional? Gaji staf dan maintenance: Rp 30 juta, Listrik dan perawatan: Rp 10 juta. Marketing rutin: Rp 10 juta. Sehingga total biaya bulanan: Rp 50 juta. Artinya, keuntungan bersih bisa mencapai Rp 94 juta per bulan.

Pengusaha lalu tersenyum kecil. Diam-diam menghitung, Rp 3 miliar dibagi Rp 94 juta ≈ 32 bulan. Dua tahun delapan bulan. Setelah itu? Tinggal memantulkan bola dan menghitung uang.

Baca Juga:Cegah Anak Jadi Korban Child Grooming, Mahasiswa KKN UNIK Cipasung Lakukan Edukasi Area PrivasiOperasional RSUD Dewi Sartika Bisa Jadi Pemborosan, Lebih Bermanfaat Dijadikan Rumah Dinas Wali Kota

Lalu izin? Ini Kota Tasikmalaya, Bung. Tentu tidak gratis. Setiap lapangan padel tidak jatuh dari langit.

Pengusaha harus mengurus: Perizinan usaha dan bangunan, Penyesuaian tata ruang, Analisis lingkungan sederhana dan Pajak dan retribusi daerah.

0 Komentar