Lini Depan Mandul, AC Milan Dilarang Duetkan Leao-Pulisic

Rafael Leao
Rafael Leao Foto: Tangkapan layar Instagram@acmilan
0 Komentar

RADARTASIK.ID –Kekalahan dari Parma akhir pekan lalu menjadi tamparan keras bagi AC Milan yang menargetkan lolos ke Liga Champions musim depan.

Hasil tersebut membuat Rossoneri tertinggal 10 poin dari Inter Milan dan kembali menegaskan satu persoalan lama: lini depan yang belum cukup tajam untuk bersaing memperebutkan scudetto.

Secara angka, Milan memang tidak tampil buruk. Dalam 26 pertandingan Serie A, mereka mencetak 41 gol—jumlah yang sama dengan Como dan hanya sedikit di bawah Juventus (43 gol).

Namun perbandingan dengan Inter yang menguasai puncak klasemen terasa mencolok.

Baca Juga:Jurnalis Italia: Inter Dihantui Kutukan Musim Tanpa GelarInter Milan Tersingkir dari Liga Champions, Ini Kata Legenda AC Milan

Nerazzurri sudah mengoleksi 62 gol, atau 21 gol lebih banyak dari Milan. Selisih inilah yang menjadi pembeda dalam perebutan gelar.

Di awal musim, pelatih Massimiliano Allegri pernah menegaskan bahwa kejuaraan dimenangkan oleh tim dengan pertahanan terbaik.

Pernyataan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi musim ini menunjukkan bahwa keseimbangan tetap krusial.

Inter memang kebobolan lebih banyak satu gol dari Milan, namun produktivitas mereka di depan gawang jauh lebih menentukan.

Masalah utama Milan terlihat jelas: ketiadaan striker sentral yang benar-benar menjadi pemimpin lini serang.

Sejak era pasca-Zlatan Ibrahimovic, Rossoneri belum menemukan sosok penyerang tengah yang mampu membawa tim di momen sulit.

Olivier Giroud sempat menjadi andalan dengan 15 gol musim lalu, tetapi dampaknya tak sebesar striker-striker elite seperti Lautaro Martinez atau Ciro Immobile di masa jayanya.

Musim ini, beban gol lebih banyak dipikul oleh pemain sayap.

Baca Juga:Inter Disingkirkan Bodo/Glimt, Legenda Juventus: Bermain Standar Tak Cukup untuk Menaklukkan Liga ChampionsSandro Sabatini: Inter Tersingkir dari Liga Champions dengan Cara yang Sangat Buruk

Rafael Leao menjadi pemain ofensif paling sering digunakan dengan 19 penampilan, 8 gol, dan 2 assist dalam 1.264 menit bermain.

Di belakangnya ada Christian Pulisic, yang mencatat 8 gol dan 2 assist dari 963 menit bermain. Secara efektivitas, Pulisic bahkan terlihat lebih efisien.

Namun di sinilah persoalannya. Leao dan Pulisic bukanlah striker murni. Keduanya lebih nyaman bergerak dari sisi lapangan, mencari ruang, dan menusuk ke dalam.

Ketika dipasangkan sebagai duet utama tanpa penyerang tengah dominan, Milan kehilangan titik referensi di kotak penalti.

Eksperimen dengan pemain lain seperti Nkunku atau Fullkrug belum benar-benar memecahkan masalah.

0 Komentar