Sisanya? Ditutup dengan utang. Dengan menunda beli. Atau dengan mengurangi.
Ekonomi kota ini tidak runtuh. Tapi ia sedang ngos-ngosan.
Apep tidak hanya bicara soal pemotongan. Ia bicara peluang. Salah satunya: program Makan Bergizi Gratis (MBG). Perputaran uangnya disebut mencapai Rp300 miliar per tahun hanya di Kota Tasikmalaya.
Angka itu bahkan lebih besar dari TKD yang hilang. Tantangannya satu: jangan sampai uangnya mampir sebentar lalu kabur ke luar daerah.
Lele, nila, cabai, tomat, sayuran semuanya bisa dipasok petani lokal. Rantai produksi hulu-hilir harus terjadi di dalam kota. Jika tidak, Kota Tasik hanya jadi tempat makan. Yang kenyang daerah lain.
Baca Juga:PJU Padam Bertahun-tahun di Kawalu Kota Tasikmalaya, Warga Bertanya: Lagi Hemat Energi atau Lupa Dipelihara?Gunung Jati Group Santuni 600 Anak Yatim di Kota Tasikmalaya, Ramadan Jadi Tabungan Akhirat
Di satu sisi, dana pusat menyusut. Di sisi lain, PAD harus digali lebih kreatif. Pembangunan harus lebih selektif. Belanja harus lebih cermat. Rapat cukup air putih.
Kota ini tidak bangkrut. Tidak juga panik. Tapi jelas: napasnya sedang pendek.
Dan seperti orang yang sedang ngos-ngosan, Kota Tasikmalaya hanya punya dua pilihan: berhenti sebentar untuk mengatur napas— atau belajar berlari dengan beban yang lebih ringan. (rezza rizaldi/red)
