Kebakaran Subuh di Kota Tasikmalaya, Rumah Ludes dan Keluarga Korban Menanti Janji Bantuan

kebakaran subuh di Kota Tasikmalaya akibat korsleting kabel charger
Paguyuban Tionghoa Tasikmalaya bersama anggota DPRD saat bertandang ke rumah korban kebakaran, Selasa (24/2/2026). Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Bau kayu hangus masih menggantung di Gang Malika Sari, Empangsari, RT 3 RW 7, Kelurahan Yudanegara, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya.

Di lahan yang kini dipenuhi abu dan seng melengkung seperti kertas terbakar, Yadi Mulyadi berdiri menatap sisa rumahnya.

Rumah yang ditempati keluarganya sejak era 1970-an kini tinggal rangka hitam—kenangan yang berubah jadi arang.

Baca Juga:Sekretariat HMI Cabang Tasikmalaya Sempat Disegel, Kader Geram Hasil Pleno Tak Kunjung Datang Tiga Nama Lolos Jadi Calon Rektor Unsil 2026–2030: Aripin, Asep Suryana, dan Ade Rustiana

Kebakaran terjadi Sabtu (21/2/2026) sekitar pukul 03.00 WIB, tepat saat waktu sahur. Api bermula dari kabel tambahan pengisi daya ponsel.

Anak sulung Yadi menjadi saksi pertama melihat kilatan api yang menyambar di sudut rumah.

“Pas mau dibangunin sahur, anak saya bilang ada percikan api dari kabel. Dia langsung panik,” kata Yadi saat ditemui Selasa (24/2/2026).

Refleks, Yadi mematikan meteran listrik. Namun, api tak mau kompromi. Kabel tetap menyala, sementara dinding rumah yang sebagian besar berbahan kayu menjadi bahan bakar berikutnya.

“Listrik sudah dimatikan, tapi kabelnya masih nyala. Saya takut ngerembet ke mana-mana,” ujarnya.

Tak butuh waktu lama, api melalap dua rumah yang berdempetan, termasuk rumah milik Jeri. Sekitar 10 jiwa dari dua keluarga terdampak.

Ruang tidur, dapur, dan tempat anak-anak tumbuh kini berubah menjadi abu. Subuh itu, bukan hanya sahur yang tertunda, tetapi juga masa depan yang mendadak goyah.

Baca Juga:Kota Tasikmalaya Jadi Panggung Adu Visi Bakal Calon Rektor Unsil, Senat Siapkan Saringan Musyawarah-VotingRSUD Dewi Sartika Kota Tasikmalaya Lebih Baik Disewakan daripada Jadi Museum karena Ventilator

Yadi yang sehari-hari bekerja sebagai juru parkir di sebuah kafe kini menumpang di rumah tetangga dan saudara.

Di sela membersihkan puing, ia mengumpulkan abu ke dalam karung, memilah apa pun yang mungkin masih bisa diselamatkan.

“Kami ingin rumah ini berdiri lagi. Tapi caranya bagaimana? Kami juga bingung,” katanya lirih.

Ia mengaku sudah menerima bantuan awal dari BPBD Kota Tasikmalaya dan Dinas Sosial Kota Tasikmalaya.

Untuk perbaikan rumah, Yadi diarahkan mengajukan program rumah tidak layak huni (Rutilahu).

Masalahnya, proses administrasi terasa panjang, sementara atap tak bisa menunggu.

Di antara kerugian materi, ada cerita kecil yang ikut hangus: seragam sekolah anaknya yang masih duduk di bangku SD.

0 Komentar