Ekonomi Kota Tasikmalaya 2026 Ngos-Ngosan! Tahun Paling Berat, Sebelum Lebaran Tiba

ekonomi kota tasikmalaya
ilustrasi: AI
0 Komentar

Beberapa warga Kota Tasikmalaya yang ditanyai Radar, tentang kondisi ekonomi mengaku kondisi ekonomi yang kian menyulitkan.

“Kalau dibilang berat, sekarang ini bukan berat lagi. Sudah ngos-ngosan,” ujar Sarwani (45), warga Kelurahan Cikalang, Kecamatan Tawang.

Ia bekerja serabutan. Kadang narik, kadang bantu bongkar barang. Penghasilannya tidak tentu.

Baca Juga:Presiden Prabowo Memilih Empati!Koperasi Desa Merah Putih Bakal Gantikan Alfamart-Indomaret?

“Harga memang katanya turun, tapi kami juga jarang pegang uang. Mau belanja apa?” katanya lirih.

Menjelang Lebaran, ia tak berani menjanjikan apa pun pada anak-anaknya. “Baju baru? Nanti dulu. Bisa makan saja sudah syukur.” ucapnya.

Nada serupa datang dari Iwan Setiawan (38), pedagang kecil di sekitar Pasar Cikurubuk, Kecamatan Mangkubumi. “Pasar sepi, Pak. Dari pagi sampai siang kadang cuma dua-tiga pembeli,” katanya.

Ia tahu pemerintah juga kesulitan. Tapi menurutnya, rakyat kecil sudah terlalu lama menahan. “Kalau ada THR dari pemerintah kota, walaupun tidak besar, itu sangat menolong. Buat muter lagi uang di pasar.” tuturnya.

Di Kelurahan Sukamanah, Kecamatan Cipedes, Rahmat Wijaya (52) yang bekerja sebagai buruh harian mengaku Lebaran tahun ini terasa paling sunyi.

“UMK naik, iya. Tapi kerjaan makin jarang. Naik di kertas, turun di dapur,” ujarnya.

Ia berharap Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tasikmalaya idak hanya bicara efisiensi. “Kami juga butuh diringankan. THR untuk masyarakat umum itu bukan minta mewah. Itu minta bertahan.” paparnya.

Baca Juga:Mahasiswa UMB Manfaatkan Teknologi AIoT untuk Tekan Kematian Ikan Gurame di Wargakerta Tasikmalaya1 Maret 2026, Scooter Tasikmalaya Club Berbagi Bareng 100 Anak Yatim dan Jompo!

Harapan itu juga datang dari warga pinggiran kota. Dumai (29), warga Kelurahan Urug, Kecamatan Kawalu, mengatakan bantuan menjelang Lebaran bisa menjadi penopang psikologis masyarakat.

“Bukan soal jumlahnya. Tapi soal perhatian. Kalau pemerintah hadir di saat susah, kepercayaan warga bisa hidup lagi,” katanya.

Bagi warga, Lebaran bukan sekadar hari raya. Ia adalah ujian ekonomi. Ketika pasar sepi, pekerjaan tak menentu, dan belanja makin ditahan, THR dari pemerintah kota dipandang bukan sebagai kemewahan—melainkan bantalan terakhir agar dapur tetap mengepul dan suasana Lebaran tidak sepenuhnya kehilangan makna.

0 Komentar