Ekonomi Kota Tasikmalaya 2026 Ngos-Ngosan! Tahun Paling Berat, Sebelum Lebaran Tiba

ekonomi kota tasikmalaya
ilustrasi: AI
0 Komentar

Tasikmalaya tidak kekurangan niat baik. Tapi niat baik selalu butuh arah. Dan arah itu hanya bisa ditentukan dengan memilih meski semua pilihan terasa pahit.

YANG PALING MAHAL KEPERCAYAAN

Krisis ekonomi jarang runtuh dengan ledakan. Ia runtuh perlahan. Diam-diam. Dan ketika orang sadar, yang hilang bukan hanya uang.

Tapi percaya. Di Kota Tasikmalaya, awal 2026 adalah fase menunggu yang terlalu panjang. Pemerintah menunggu keadaan membaik. Pasar menunggu pembeli kembali. Masyarakat menunggu kepastian. Semua menunggu. Tak ada yang benar-benar bergerak lebih dulu.

Baca Juga:Presiden Prabowo Memilih Empati!Koperasi Desa Merah Putih Bakal Gantikan Alfamart-Indomaret?

Masalahnya, ekonomi tidak menyukai keraguan. Ketika kebijakan terlalu lama ragu, sinyal yang ditangkap pasar menjadi kabur. Pedagang menahan stok. Pengusaha kecil menunda ekspansi. Pekerja menunda belanja. Uang makin jarang berputar. Bukan karena tidak ada, tapi karena tidak yakin.

Di sinilah daya tahan sosial diuji. Masyarakat mungkin masih bertahan. Tapi bertahan bukan berarti kuat. Bertahan sering kali berarti mengalah: mengurangi makan bergizi, menunda sekolah, menahan berobat, memendam kecemasan. Hal-hal kecil yang tidak tercatat di APBD, tapi menumpuk di rumah tangga.

Lebaran lalu bisa dilewati. Lebaran ini mungkin masih bisa. Tapi berapa banyak Lebaran lagi yang bisa dilewati dengan cara seperti ini?

Jika pasar tradisional terus kehilangan pembeli, ia bukan sekadar kalah bersaing. Ia kehilangan fungsi sosialnya. Jika UMK terus tertinggal dari kebutuhan hidup layak, maka kerja keras kehilangan maknanya. Jika belanja publik terus terasa tidak adil, maka rasa memiliki terhadap pemerintah ikut menguap.

Dan ketika kepercayaan hilang, memulihkannya jauh lebih mahal daripada menutup defisit. Kepercayaan adalah modal ekonomi paling mahal. Ia tidak bisa dipinjam. Tidak bisa ditransfer. Tidak bisa ditunda pembayarannya.

Ia hanya tumbuh dari keberanian mengambil keputusan—tepat waktu, jujur, dan terasa manfaatnya. Tasikmalaya masih punya waktu. Tapi waktunya tidak panjang.

Karena pada akhirnya, yang menentukan masa depan ekonomi lokal bukan hanya besarnya anggaran. Melainkan keyakinan warganya bahwa esok hari masih layak diperjuangkan. Dan di situlah ujian sesungguhnya bagi siapa pun yang memegang kemudi.

0 Komentar