Tasikmalaya masih hidup. Tapi denyutnya melemah. Dan ketika uang berputar lebih pelan, yang paling dibutuhkan bukan hanya angka optimisme. Tapi kebijakan yang membuat uang kembali bergerak.
TAK PUNYA PILIHAN
Pemerintah daerah jarang punya pilihan yang sempurna. Terlebih saat uangnya terbatas. Di Kota Tasikmalaya awal 2026, pilihannya hanya tiga. Semuanya berat. Tidak ada yang benar-benar menyenangkan.
Pilihan pertama: menolong pasar. Artinya, pemerintah harus berani mendorong belanja. Intervensi. Menghidupkan kembali perputaran uang. Entah lewat kegiatan, bantuan langsung, atau program padat karya. Logikanya sederhana: jika uang tidak beredar, ekonomi mati perlahan.
Baca Juga:Presiden Prabowo Memilih Empati!Koperasi Desa Merah Putih Bakal Gantikan Alfamart-Indomaret?
Tapi pilihan ini mahal. Sangat mahal. Saat APBD sudah defisit dan dana transfer dipangkas, setiap rupiah tambahan belanja berarti menambah risiko fiskal. Dan fiskal yang rapuh bisa runtuh tanpa aba-aba.
Pilihan kedua: menyelamatkan fiskal. Ini pilihan paling aman di atas kertas. Menahan belanja. Memangkas program. Mengencangkan ikat pinggang. Tidak populis, tapi rapi secara akuntansi. Anggaran seimbang, laporan terlihat sehat, dan risiko jangka pendek bisa ditekan.
Masalahnya, ekonomi tidak hidup dari laporan. Ia hidup dari transaksi. Jika belanja pemerintah ikut menahan diri, siapa yang akan memulai perputaran uang?
Pasar sudah lesu. Masyarakat sudah menunggu. Jika pemerintah juga menunggu, yang bergerak hanyalah waktu—menuju perlambatan yang lebih dalam.
Pilihan ketiga: sekadar bertahan. Ini pilihan yang sering tidak diumumkan, tapi paling sering dijalani. Tidak menolong secara serius. Tidak juga mengencangkan secara ekstrem. Jalan tengah. Jalan sunyi.
Program tetap ada, tapi kecil. Kegiatan tetap jalan, tapi pelan. Pemerintah hadir, tapi tidak terlalu terasa. Harapannya satu: badai segera lewat.
Masalahnya, tidak semua badai lewat dengan sendirinya. Di titik inilah kepemimpinan diuji oleh keberanian memilih risiko.
Baca Juga:Mahasiswa UMB Manfaatkan Teknologi AIoT untuk Tekan Kematian Ikan Gurame di Wargakerta Tasikmalaya1 Maret 2026, Scooter Tasikmalaya Club Berbagi Bareng 100 Anak Yatim dan Jompo!
Apakah lebih berani mengambil risiko fiskal demi menghidupkan ekonomi rakyat? Atau lebih berani menahan belanja demi menjaga angka tetap cantik?
Atau memilih aman—dan berharap keadaan membaik dengan sendirinya?
Menjelang Lebaran, pertanyaan itu makin nyata. Karena Lebaran bukan hanya soal tradisi. Ia adalah indikator ekonomi rakyat. Jika pasar tetap sepi saat Ramadan, maka masalahnya bukan lagi musiman. Ia struktural.
