Lebaran akan datang. Tradisinya selalu sama: baju baru, makanan lebih baik, senyum lebih lebar. Tapi tahun ini, mungkin senyumnya harus lebih hemat. Masalah ekonomi jarang datang dengan suara keras. Ia datang pelan. Hampir tak terasa. Tahu-tahu kita sudah berada di dalamnya.
Di Kota Tasikmalaya, uang masih ada. Tapi ia berputar lebih pelan. Pegawai masih menerima gaji. Pasar masih buka setiap pagi. Angkot masih mondar-mandir. Warung masih menanak nasi. Namun satu hal berubah: transaksi mengecil. Satu per satu.
Yang dulu belanja mingguan, kini harian. Yang dulu membeli dua, kini satu. Yang dulu tunai, kini utang. Bahkan untuk kebutuhan yang dulu dianggap biasa. Inilah dampak lanjutan dari deflasi yang sering disalahpahami. Harga turun, tapi bukan karena orang senang. Harga turun karena orang menunggu. Menunggu entah apa. Mungkin menunggu kepastian. Mungkin menunggu THR. Mungkin menunggu keajaiban.
Baca Juga:Presiden Prabowo Memilih Empati!Koperasi Desa Merah Putih Bakal Gantikan Alfamart-Indomaret?
Di sisi lain, pemerintah daerah juga menunggu. Pemangkasan dana transfer dari pusat membuat banyak rencana tinggal rencana. Proyek ditunda. Program dipilih-pilih. Bukan lagi soal prioritas pembangunan, tapi soal mana yang masih mungkin dikerjakan.
Efisiensi menjadi mantra. Tapi efisiensi tanpa uang sering kali hanya berarti menahan diri. Dan menahan diri terlalu lama bisa membuat ekonomi kehilangan ritmenya.
Yang paling terasa adalah sektor informal. Pedagang kecil, buruh harian, tukang ojek, penarik becak—mereka tidak tercatat dalam statistik defisit APBD. Tapi mereka paling cepat merasakan denyut ekonomi yang melemah. Ketika uang berhenti berputar, merekalah yang pertama kali kehabisan napas.
Sementara itu, dunia digital melaju tanpa menunggu. Belanja daring terus menawarkan kemudahan. Diskon. Gratis ongkir. Pasar tradisional tak punya itu. Mereka hanya punya kepercayaan dan kedekatan. Sayangnya, kepercayaan tidak selalu bisa mengalahkan algoritma.
Di sinilah kesenjangan baru muncul. Bukan hanya antara kaya dan miskin. Tapi antara yang terkoneksi dan yang tertinggal.
Menjelang Lebaran, situasi ini menjadi ujian. Biasanya, Ramadan adalah masa ekonomi rakyat bergerak. Sekarang, yang bergerak justru kecemasan: apakah belanja akan naik? Apakah uang akan cukup? Apakah Lebaran kali ini hanya sekadar bertahan?
