Skema itu akhirnya ambruk sebelum sempat disebut sebagai “program”.
Berhenti Tanpa Penjelasan
Setelah hanya tiga kali penerbangan—2, 7, dan 9 Oktober 2023—layanan dihentikan.
Pada 16 Oktober tidak ada penerbangan, dan sehari kemudian diumumkan resmi berhenti.
Baca Juga:PJU Padam Bertahun-tahun di Kawalu Kota Tasikmalaya, Warga Bertanya: Lagi Hemat Energi atau Lupa Dipelihara?Gunung Jati Group Santuni 600 Anak Yatim di Kota Tasikmalaya, Ramadan Jadi Tabungan Akhirat
Tak ada penjelasan rinci ke publik. Yang tersisa hanya kesimpulan diam-diam: model charter mahal tidak sebanding dengan minat penumpang yang menurun drastis.
Bandara Wiriadinata kembali sunyi, sementara mimpi konektivitas udara kembali masuk lemari arsip.
Infrastruktur Siap, Pasar yang Belum
Kasatpel Bandara Wiriadinata, Bambang Suharjana, pernah menegaskan bahwa persoalan bukan pada fasilitas bandara.
Ia mengingatkan, pada 2017 penerbangan rutin ke Jakarta dan Yogyakarta sempat berjalan sebelum pandemi menghentikannya pada Maret 2020.
Tahun 2022, Susi Air sempat mencoba peruntungan, namun hanya bertahan dua bulan karena tarif Rp1,5 juta dianggap terlalu mahal.
“Tahun 2023 Citilink mencoba, tapi juga tidak bertahan lama. Bandara siap, ATR 72 bisa masuk. Tantangannya ada di pasar dan keberlanjutan,” ujarnya.
Dengan kata lain, landasan pacu siap, tetapi dompet penumpang belum tentu ikut terbang.
Dirayu Lagi di 2026
Kini, 2026, Pemerintah Kota Tasikmalaya kembali membuka komunikasi dengan Citilink.
Baca Juga:Sejumlah Dinas Absen Musrenbang Sektoral Kota Tasikmalaya, Diky Candra: Bukan Marah, Tapi Malu SendiriVideo Hampers ASN di Kota Tasikmalaya Diklaim Tahun Lalu, Bapelitbangda: Bukan Pesta, Tapi Tukar Kado
Selain audiensi dengan maskapai, rombongan pemkot juga berkonsultasi dengan Direktorat Jenderal Bina Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri pada 26 Februari 2026.
Fokusnya adalah regulasi dan dukungan pembiayaan agar skema bantuan daerah tidak menabrak aturan.
“Kami ingin memastikan peluang penguatan layanan penerbangan ini bisa ditindaklanjuti secara nyata, bukan sekadar wacana di ruang rapat,” ujar Asisten Daerah Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kota Tasikmalaya, H Hanafi, Kamis (25/2/2026).
Pernyataan itu seolah menjadi pengakuan tak langsung bahwa kegagalan 2023 tak boleh terulang dengan pola yang sama.
Antara Harapan dan Deja Vu
Upaya menghidupkan kembali penerbangan di Bandara Wiriadinata memang menggoda secara politik dan simbolik.
Namun publik kini lebih kritis: apakah ini strategi baru berbasis pasar, atau sekadar mengulang eksperimen lama dengan nama baru?
Jika kembali mengandalkan subsidi besar tanpa kepastian okupansi, maka yang akan terbang bukan pesawat—melainkan anggaran.
