Presiden Prabowo Memilih Empati!

Presiden prabowo
Gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

Kalau ini disebut hambur, mungkin kita perlu bertanya ulang: sejak kapan memberi makan anak negeri dianggap berlebihan?.

Protes terhadap MBG tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari ingatan kolektif yang sudah terlalu sering dikecewakan. Setiap kali negara berkata “niat kami baik”,

rakyat refleks bertanya: siapa yang akan bermain di belakangnya?

Bukan karena rakyat sinis. Tapi karena sejarah mengajarkan kehati-hatian yang pahit. MBG lalu diperlakukan seperti proyek. Dipreteli. Dicurigai. Diperiksa sebelum sempat berjalan. Padahal di atas kertas, ia bukan jembatan, bukan gedung, bukan jalan tol. Ia sepiring makan.

Baca Juga:Koperasi Desa Merah Putih Bakal Gantikan Alfamart-Indomaret?Mahasiswa UMB Manfaatkan Teknologi AIoT untuk Tekan Kematian Ikan Gurame di Wargakerta Tasikmalaya

Yang sering luput: Presiden Prabowo tidak sedang bicara efisiensi teknokratis. Ia bicara insting. Insting seorang pemimpin yang percaya negara tidak boleh membiarkan warganya lapar, meski anggaran harus dikorbankan.

Saya kembali memperhatikan caranya berjalan. Langkahnya berat, tapi mantap. Seperti orang yang tahu jalannya tidak mudah, tapi memilih tetap maju.

Nada bicaranya saat menyebut anak-anak tidak berubah. Tidak meledak-ledak. Tidak juga dingin. Nada orang tua. Dan di situlah MBG sebenarnya bermula. Bukan dari kalkulator, tapi dari empati.

Masalahnya, negara modern sering alergi empati. Segala sesuatu harus diukur. Dikonversi ke angka. Dipadatkan ke grafik.

MBG tidak nyaman di situ. Karena dampaknya tidak langsung naik di APBN, tapi mungkin baru terasa 15–20 tahun kemudian, saat anak-anak yang hari ini kenyang tidak tumbuh pendek, tidak putus sekolah, dan tidak menyimpan dendam pada negara.

Apakah MBG mahal? Ya.

Apakah berisiko? Tentu.

Tapi bukankah semua keputusan besar selalu begitu?

Yang perlu dijaga bukan niatnya, melainkan pelaksanaannya.

Pengawasan harus keras. Transparansi harus kejam. Bukan untuk menjegal, tapi untuk memastikan cinta tidak berubah jadi celah. Karena tragedi terbesar bukan ketika negara mencoba memberi, melainkan ketika ia berhenti mencoba karena terlalu takut dicurigai.

Negara modern percaya pada angka. Angka dianggap netral. Padahal sering kali dingin. Di meja rapat, MBG dipotong-potong: biaya per porsi, rantai distribusi, potensi kebocoran, beban fiskal. Semua sah. Semua perlu.

0 Komentar