Pasar Ikan Singaparna Tasikmalaya Mulai Ditinggalkan, dari 80 Pedagang Tersisa Hanya 18 yang Masih Berjualan

Pasar Ikan Singaparna
Penjualan ikan di Pasar Tradisional Singaparna di Bulan Ramadan mengalami penurunan pembeli, Minggu (22/2/2026). (Diki Setiawan/Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Aktivitas Pasar Ikan di Pasar Tradisional Singaparna kian lesu. Jumlah pedagang terus menyusut akibat minimnya pembeli, terutama pada Ramadan tahun ini.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika awal puasa pasar selalu dipadati pembeli yang berburu berbagai jenis ikan.

Ramadan kali ini justru diwarnai penurunan drastis transaksi. Konsumen diketahui lebih memilih membeli ikan dari penjual kolam di lingkungan terdekat.

Baca Juga:Sekda Kabupaten Tasikmalaya Jadi Staf Ahli, Bupati Lakukan Rotasi dan Mutasi 24 PejabatGP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Kuatkan Kader, Gelar Konsolidasi Organisasi di Enam Zona

Salah satu pedagang, Mamat, mengakui penjualan ikan di pasar menurun tajam. Termasuk saat Ramadan kali ini. “Sekarang sepi, biasanya Ramadan masuk banyak pembeli sampai puluhan kilo. Sekarang paling banyak sehari bisa sampai terjual 15 kilo, terkadang terjual 5 kilo,” ujarnya.

Ia menambahkan, pada Ramadan tahun-tahun sebelumnya, sepekan menjelang puasa hingga mendekati Lebaran, satu pedagang bisa menjual hingga 50 kilogram per hari.

“Mungkin penurunan jumlah penjualan ikan yang terjual dipicu oleh makin berkurangnya pengunjung pasar yang datang ke pasar ikan untuk berbelanja. Lebih memilih beli ke pedagang kolam ikan dekat lingkungannya,” tuturnya.

Kepala Pengelola Pasar Ikan Singaparna, Ujang, menyebut maraknya pedagang yang membuka lapak mandiri di berbagai wilayah turut memperparah penurunan pembeli. Pada 2010, pasar ini tercatat memiliki sekitar 80 pedagang, sementara kini hanya tersisa 18 pedagang aktif.

“Sehingga sehari para pedagang ikan bisa mencapai 3 bahkan sampai 5 kuintal ikan berbagai jenis bisa terjual,” katanya, menggambarkan kondisi pasar saat masih ramai, dengan pembeli tidak hanya dari Kabupaten Tasikmalaya tetapi juga dari Garut, Sumedang, Ciamis hingga Cilacap.

Kata dia, penurunan jumlah pedagang tersebut terjadi karena semakin banyaknya para pedagang ikan yang keluar dari pasar dan memilih membuka lapak secara mandiri.

“Tapi karena mungkin di sini sepi pembeli, akhirnya mereka mencari alternatif dengan cara membuka lapak sendiri,” tambah dia. (dik)

0 Komentar