TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Inovasi deteksi penyakit paru berbasis kecerdasan buatan serta alat pemantau gula darah tanpa jarum suntik mengantarkan tiga siswa SMA Al Muttaqin Kota Tasikmalaya menembus ajang riset nasional hingga internasional.
Tiga siswa tersebut, yakni Nathan, Balqis, dan Aulia, berhasil mencatatkan prestasi melalui karya riset berbasis teknologi dan kecerdasan buatan yang relevan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat.
Di tingkat nasional, Nathan dan Balqis meraih penghargaan terbaik ketiga dalam ajang Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2025 pada bidang komputer.
Baca Juga:Mahasiswa UMB Manfaatkan Teknologi AIoT untuk Tekan Kematian Ikan Gurame di Wargakerta Tasikmalaya1 Maret 2026, Scooter Tasikmalaya Club Berbagi Bareng 100 Anak Yatim dan Jompo!
Keduanya mengembangkan inovasi bertajuk “HERALD: Deteksi Penyakit Paru Real-time Berbasis Web Menggunakan Teknik Transfer Learning Mobile Net V2 dan TensorFlow.js pada Citra Rontgen Toraks”. Inovasi tersebut mampu mendeteksi penyakit paru secara cepat dan akurat melalui sistem berbasis web.
Capaian gemilang juga diraih di level internasional. Aulia sukses meraih bronze medal pada ajang Korea Science Engineering Fair (KSEF) 2026 di Korea Selatan melalui riset berjudul “SUGAR (Smart μPADs for Glucose Analysis and Reporting): AI-Integrated Saliva Biosensor for Real-Time Glucose Monitoring via Mobile Interface”.
Inovasi ini menghadirkan solusi pemantauan kadar gula tubuh tanpa pengambilan darah, sehingga lebih praktis dan noninvasif.
Kepala SMA Al Muttaqin, In In Kadarsolihin SS MPd, mengungkapkan rasa syukur dan apresiasinya atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi ini menjadi bukti bahwa siswa mampu menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat sekaligus bersaing di kancah global melalui riset yang aplikatif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
“Partisipasi dalam ajang ISPO 2025 dan KSEF 2026 juga menjadi ruang pembelajaran berharga bagi para siswa untuk mengasah kemampuan komunikasi ilmiah, kolaborasi tim, serta kepercayaan diri dalam berkompetisi dengan pelajar dari berbagai daerah dan negara. Pengalaman ini diharapkan dapat menjadi bekal penting bagi siswa dalam menghadapi tantangan pendidikan dan dunia global di masa depan,” ujar In In.
Ia menambahkan, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari proses pembinaan riset yang dilakukan secara berkelanjutan di sekolah.
Melalui pendampingan guru pembimbing, siswa didorong untuk berpikir kritis, kreatif, serta peka terhadap persoalan nyata di masyarakat, mulai dari tahap perumusan ide, pengumpulan data, hingga penyusunan laporan ilmiah dan presentasi karya.
