TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Minggu sore nanti, 1 Maret 2026, ada yang berbeda di Aula Kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Tasikmalaya.
Bukan seminar. Bukan wisuda. Bukan pula rapat panjang yang sering berakhir tanpa kesimpulan.
Yang datang justru skuter-skuter. Tapi jangan bayangkan suara bising. Justru sebaliknya, mereka datang untuk berhenti.
Baca Juga:Kadis Kesehatan Versus Ventilator!Hasil Survei Tingkat Kepuasan Warga Kota Tasikmalaya Dipertanyakan
Scooter Tasikmalaya Club (STC) akan menggelar santunan dan buka bersama 100 anak yatim dan jompo. Acara dimulai pukul 16.00 WIB. Sebelumnya, anggota STC akan berbagi takjil kepada masyarakat sekitar.
Ini bukan agenda besar dengan spanduk berlapis-lapis. Ini agenda kecil yang menyasar hal besar: rasa.
Ketua STC, Enan Suhelan, menyebut kegiatan ini sebagai upaya mempererat tali persaudaraan. Ramadan, katanya, selalu memberi kesempatan untuk saling berbagi. Tinggal bagaimana kita memanfaatkannya.
Kalimat itu terdengar sederhana. Tapi justru di situ letak ujiannya. Banyak orang menunggu momen berbagi. Tidak semua mau turun langsung.
Ketua Panitia, Asep Saeful Efendi, bahkan lebih dulu menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Jika nanti aktivitas STC sedikit mengganggu. Ia berharap acara berjalan lancar dan tertib.
Permohonan maaf sebelum acara dimulai—itu jarang. Biasanya orang minta maaf setelah acara selesai. Atau setelah masalah muncul.
“Ini soal niat,” katanya.
Niat ikhlas agar menjadi keberkahan bersama. Agar STC tidak hanya dikenal sebagai klub skuter, tetapi juga komunitas yang terus berbakti dan berdampak bagi masyarakat.
Baca Juga:Siswa MAN 1 Tasikmalaya Sabet Medali Perunggu di Olimpiade Fisika Nasional 2026Wali Kota Tasikmalaya Sebut 84,14 Persen Masyarakat Puas soal Pelayanannya!
Ramadan memang sering membuat kita melambat. Tapi di Tasikmalaya, ada komunitas yang justru memilih berhenti sejenak—bukan untuk diri sendiri, melainkan untuk berbagi.
Skuter mereka mungkin kecil. Mesinnya mungkin tidak besar. Namun nanti itu, di Aula UPI Tasikmalaya, niat baik STC akan berbunyi jauh lebih nyaring daripada deru knalpot mana pun.
Target mereka juga jelas. Niat ikhlas agar menjadi keberkahan bersama. Agar STC tidak berhenti sebagai komunitas hobi. Tapi terus berbakti dan berdampak bagi masyarakat.
Minggu sore nanti, ketika azan Magrib terdengar, mungkin skuter-skuter itu tidak akan melaju ke mana-mana. Namun niat baiknya, sudah lebih dulu sampai. (red)
