Ramadan Bikin Sampah Menggunung, DLH Kota Tasikmalaya Lemburkan Petugas Jaga Wajah Kota

lonjakan volume sampah Ramadan di Kota Tasikmalaya
Petugas kebersihan dan relawan saat melakukan aksi kebersihan di Pasar Cikurubuk pekan lalu. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Ramadan belum genap sehari, tapi alarm soal sampah sudah dibunyikan. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya resmi meliburkan libur petugas kebersihan—alias lembur—demi mengantisipasi potensi lonjakan sampah di sejumlah titik strategis pusat kota.

Kepala DLH Kota Tasikmalaya, Sandi Lesmana, menegaskan bahwa instruksi kerja ekstra telah diberikan kepada jajaran, termasuk pengelola TPA dan bidang persampahan.

Targetnya satu: jangan sampai sampah menumpuk dan jadi “ornamen” Ramadan di muka kota.

Baca Juga:MBG Mandek Tiga Pekan di SD Condong Kota Tasikmalaya, Kata PIC Dapur SPPG: karena Pergantian KSPPGDitinggal Tarawih, Rumah PNS di Kota Tasikmalaya Dibobol Maling: Uang Rp20 Juta Raib, Pintu Tetap Terkunci

“Petugas kebersihan lembur. Saya sudah instruksikan Kepala TPA dan Kabid Sampah, penumpukan di beberapa titik harus langsung diangkut,” ujar Sandi usai memeriksa kawasan Alun-Alun Kota Tasikmalaya, Kamis (19/2/2026).

Langkah antisipatif ini bukan tanpa dasar. Berdasarkan pola tahunan, volume sampah selalu melonjak menjelang Idulfitri seiring meningkatnya aktivitas belanja, konsumsi, dan hajatan dapur rumah tangga.

Meski hari pertama Ramadan belum menunjukkan lonjakan signifikan, DLH memilih berjaga sebelum badai datang.

“Sekarang belum kelihatan karena baru hari pertama. Tapi prediksi kami, menjelang Lebaran pasti naik. Jumlah penduduk terus bertambah, otomatis sampah ikut bertambah,” katanya.

Data tahun lalu menjadi cermin. Pasca-Lebaran 2025, produksi sampah harian di Kota Tasikmalaya melonjak dari rata-rata 315 ton menjadi sekitar 400 ton per hari.

Kenaikan hampir 85 ton itu menjadi peringatan bahwa kapasitas pengelolaan tak bisa lagi sekadar tambal sulam musiman.

Ironinya, jenis sampah yang paling dominan justru sampah organik, terutama sisa makanan. Fenomena ini membuat Sandi heran di tengah kondisi ekonomi yang disebutnya sedang tidak longgar.

Baca Juga:Riset Smart Trash Universitas Mayasari Bakti Dorong Pengelolaan Sampah Digital di Kota TasikmalayaPlat Nomor Terbalik, Mobil Dinas Pemerintah Kota Tasikmalaya Viral: Sekretaris BPBD Akui Lalai

“Ekonomi lagi seret, tapi sisa makanan masih banyak terbuang. Ini yang kadang bikin saya bingung,” ucapnya, setengah satire.

Ia menegaskan, urusan sampah bukan semata tanggung jawab pemerintah. DLH hanya berada di hilir: mengangkut dan mengurangi. Hulu persoalan tetap ada pada perilaku konsumsi masyarakat.

“Sampah itu harus jadi budaya bersama. Kami hanya mengangkut dan mengurangi, itu pun terbatas,” katanya.

Dalam jangka pendek selama Ramadan, fokus DLH adalah memastikan tak ada penumpukan di area yang langsung terlihat publik.

0 Komentar