Jadwal juga berperan penting karena Arsenal menghadapi rangkaian pertandingan berat dalam waktu berdekatan, termasuk final Piala Liga Inggris di Wembley melawan City.
Intensitas tinggi dalam waktu singkat bisa menguras energi fisik dan mental anak asuh Arteta.
Disisi lain, City relatif memiliki awal jadwal yang lebih ringan, meski tetap harus menghadapi Newcastle dua kali dalam periode singkat.
Selain itu, kedua tim juga masih berlaga di Liga Champions.
Baca Juga:Tolak Tawaran Gaji Rp34 Miliar dari AS Roma, Zeki Celik Pindah ke JuventusManuel Akanji Beri Sinyal Tinggalkan Inter Milan: “Banyak Tanda Tanya Soal Masa Depan Saya”
Jika melaju jauh di Eropa, rotasi dan kedalaman skuad akan menjadi penentu. Dalam aspek ini, City dinilai sedikit lebih unggul karena pengalaman serta kedalaman pemain yang lebih matang.
Secara kualitas, kedua tim sangat seimbang. Namun perburuan gelar tidak hanya soal taktik dan statistik. Mentalitas juara sering menjadi pembeda.
Arsenal adalah tim muda yang atraktif dan penuh semangat. Namun mereka belum merasakan gelar liga dalam waktu lama.
Beban sejarah bisa menjadi tekanan tambahan ketika memasuki pekan-pekan akhir.
Sebaliknya, City di bawah Guardiola telah berkali-kali membuktikan diri mampu menangani tekanan. Mereka tahu bagaimana menjaga konsistensi hingga garis finis.
Dengan momentum yang mulai beralih, banyak prediksi menyebut Manchester City berpeluang kembali mematahkan mimpi Arsenal.
Jika The Gunners gagal menjaga fokus dan stabilitas mental, bukan tidak mungkin gelar kembali mendarat di Manchester.
Perburuan belum selesai. Namun satu hal jelas: di fase akhir seperti ini, mental juara sering kali lebih menentukan daripada sekadar posisi di klasemen.
