Media Italia: Spalletti Sangat Terpukul Juventus Dibantai Galatasaray

Luciano Spalletti
Luciano Spalletti Foto: Tangkapan layar DAZN
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Kekalahan telak 2-5 dari Galatasaray di Istanbul meninggalkan luka mendalam bagi Juventus.

Media Italia menyebut hasil tersebut bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan tamparan keras yang mengguncang ruang ganti dan menggoyahkan fondasi kepercayaan diri tim.

Surat kabar ternama Italia, La Stampa, menurunkan laporan khusus mengenai suasana di balik layar sehari setelah pertandingan.

Baca Juga:Media Italia: AC Milan Tak Puas dengan Kinerja Wasit di Serie AAndrea Longoni Coret AC Milan dari Persaingan Scudetto: Mereka Tak Punya Kemampuan Mengejar Inter

Dalam tajuknya, media itu menulis bahwa Luciano Spalletti mengambil sikap tegas usai kekalahan memalukan tersebut.

“Jangan cari alasan-alasan sekarang,” begitu pesan yang disebut-sebut disampaikan sang pelatih kepada skuadnya.

Kekalahan 2-5 di Istanbul tercatat sebagai kekalahan terburuk kedua Juventus di kompetisi Eropa sepanjang sejarah klub.

Catatan paling kelam masih dipegang kekalahan 0-7 dari Wiener Sport-Club pada musim 1958/1959.

Fakta ini semakin mempertegas betapa seriusnya krisis yang tengah membayangi Si Nyonya Tua.

Menurut laporan tersebut, Spalletti tampak sangat terpukul.

Jika sebelumnya ia masih mencoba meredam kritik dan mencari pembenaran atas sejumlah hasil kurang memuaskan, kali ini sikapnya berubah drastis.

Tidak ada lagi pembelaan terbuka di depan media. Dalam pertemuan internal, ia disebut meminta seluruh pemain melakukan introspeksi mendalam.

Baca Juga:AC Milan Kantongi Rp1,5 Triliun dari Penjualan 7 Pemain: Patahkan Rekor Pendapatan Tahun 2001Media Italia: AC Milan Rayu Modric Perpanjang Kontrak 1 Tahun Lagi

“Tidak ada gunanya berbicara jika tidak diikuti dengan tindakan nyata,” kira-kira begitu pesan yang beredar dari ruang ganti.

Pernyataan itu menjadi semacam teguran keras, terutama setelah sebelumnya Juventus sempat merasa dirugikan oleh sejumlah keputusan kontroversial saat menghadapi Inter dan Atalanta, serta hasil imbang melawan Lazio. Kini, semua alasan dianggap tak lagi relevan.

Secara taktik, Spalletti dikabarkan mulai mempertimbangkan perubahan signifikan.

Opsi kembali ke formasi tiga bek kembali mencuat, dengan lini tengah yang dibuat lebih rapat dan solid.

Ia juga ingin mengurangi obsesi pada permainan terbuka berisiko tinggi dan menuntut konsistensi dalam fase bertahan.

Gaya “Spallettismo” yang mengandalkan tekanan tinggi dan pergerakan vertikal dinilai tidak berjalan optimal tanpa kehadiran penyerang murni seperti Dusan Vlahovic di kondisi terbaiknya.

Absennya figur sentral di lini depan membuat keseimbangan tim terganggu.

0 Komentar