Kota Tasikmalaya dan Ancaman Lingkungan yang Datang Diam-Diam: Sanitasi Bukan Sekadar Urusan Sampah

isu lingkungan dan sanitasi di Kota Tasikmalaya
Dewi Nusarini saat berkegiatan sebagai akademisi sekaligus Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda Kota Tasikmalaya. istimewa for radartasik.id
0 Komentar

Gagasan itu diterjemahkan dalam kerja lapangan. Dewi aktif membina bank sampah, mendampingi Sekolah Adiwiyata, serta menggerakkan Program Kampung Iklim di Kota Tasikmalaya.

Ia juga membuka ruang dialog dengan generasi muda melalui diskusi pengelolaan sampah bersama Mojang Jajaka Kota Tasikmalaya.

Tak berhenti di wacana, ia menggagas produksi 1.000 liter eco enzyme dan edukasi komposter mini (Komini) sebagai langkah konkret mengurangi sampah organik dari sumbernya.

Baca Juga:MBG Mandek Tiga Pekan di SD Condong Kota Tasikmalaya, Kata PIC Dapur SPPG: karena Pergantian KSPPGDitinggal Tarawih, Rumah PNS di Kota Tasikmalaya Dibobol Maling: Uang Rp20 Juta Raib, Pintu Tetap Terkunci

Upaya itu turut mengantar sekolah-sekolah binaan meraih penghargaan Adiwiyata Nasional dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.

Namun bagi Dewi, piala bukan garis akhir.

“Kota resik bukan hanya bersih secara visual, tetapi menjamin hak warganya atas lingkungan yang bersih, sehat, aman, dan berkeadilan,” tulisnya.

Dua dekade perjalanan—dari pertanian, pelayanan publik, hingga penyuluhan—membuatnya memadukan praktik birokrasi dan refleksi akademik.

Ia tidak sekadar menyampaikan program, tetapi mengajak warga Kota Tasikmalaya melihat lingkungan sebagai hak sekaligus tanggung jawab bersama.

Kerjanya mungkin tak selalu terdengar nyaring seperti sirene kebakaran. Tapi gagasannya mengendap dan tumbuh: bahwa kebijakan yang baik bukan cuma rapi di meja rapat, melainkan terasa di paru-paru warga dan bertahan untuk generasi berikutnya. (ayu sabrina barokah)

0 Komentar