TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di Kota Tasikmalaya, isu lingkungan kerap diperas menjadi angka-angka: berapa ton sampah terangkut, berapa titik dibersihkan, berapa program diresmikan. Seolah jika grafik naik, masalah otomatis turun.
Padahal, menurut Dewi Nusarini, lingkungan bukan sekadar statistik, melainkan simpul antara kebijakan, perilaku warga, dan hak dasar atas kesehatan.
Sejak 2019, ia bertugas sebagai Penyuluh Lingkungan Hidup Ahli Muda di Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:MBG Mandek Tiga Pekan di SD Condong Kota Tasikmalaya, Kata PIC Dapur SPPG: karena Pergantian KSPPGDitinggal Tarawih, Rumah PNS di Kota Tasikmalaya Dibobol Maling: Uang Rp20 Juta Raib, Pintu Tetap Terkunci
Jabatan itu tidak datang tiba-tiba. Kariernya dimulai pada 2003 sebagai pelaksana di Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya.
Bekal akademiknya sebagai sarjana Agronomi dari Universitas Siliwangi menanamkan satu pandangan: tanah, air, dan manusia tidak bisa dipisahkan dalam satu ekosistem hidup.
Enam tahun bergelut di sektor pertanian (2003–2009) mempertemukannya langsung dengan realitas lapangan—bagaimana kualitas lingkungan menentukan nasib manusia.
Tahun 2009, ia berpindah ke DPMPTSP Kota Tasikmalaya hingga 2019. Satu dekade di dunia perizinan membentuk ketelitian administratif dan pemahaman regulasi.
Modal penting ketika ia mulai bicara tentang kebijakan lingkungan: bukan hanya hijau di slogan, tapi juga legal di aturan.
Di tengah karier birokrasi, Dewi melanjutkan studi S2 Ilmu Lingkungan di Universitas Sebelas Maret, dan kini menempuh Program Doktor di bidang yang sama.
Pengetahuan akademik itu ia bawa ke ruang publik lewat tulisan ilmiah tentang sanitasi, pengelolaan lingkungan, dan kesehatan masyarakat.
Baca Juga:Riset Smart Trash Universitas Mayasari Bakti Dorong Pengelolaan Sampah Digital di Kota TasikmalayaPlat Nomor Terbalik, Mobil Dinas Pemerintah Kota Tasikmalaya Viral: Sekretaris BPBD Akui Lalai
Dalam salah satu tulisannya, ia menegaskan bahwa krisis lingkungan sering datang tanpa sirene.
“Lingkungan yang tercemar dan sanitasi yang kurang memadai tidak selalu memunculkan dampak secara tiba-tiba. Ia muncul perlahan dan sering dianggap keluhan biasa,” tulisnya.
Masalahnya, yang datang perlahan justru sering disepelekan. Padahal, menurutnya, pengelolaan sampah tak bisa dipisahkan dari agenda kesehatan publik.
Paparan lingkungan yang buruk berpotensi memicu gangguan pernapasan, penyakit kulit, hingga masalah pencernaan.
Bukan untuk menakut-nakuti, melainkan mengingatkan: sanitasi adalah fondasi kualitas hidup, bukan aksesori kota.
“Selama pengendalian pencemaran dan sanitasi belum menjadi prioritas yang terintegrasi, dampaknya akan terus berulang,” tulisnya lagi.
Artinya, Kota Tasikmalaya bisa sibuk menyapu jalan, tapi jika sumber masalah tak disentuh, sapu hanya berpindah tangan dari hari ke hari.
