RADARTASIK.ID— Malam Jakarta akan kembali berdenyut di bawah cahaya lampu Jakarta International Stadium.
Jumat, 20 Februari 2026, pukul 20.30 WIB, menjadi waktu yang ditunggu, ketika Persija Jakarta menantang nasibnya sendiri pada pekan ke-22 BRI Super League 2025/26 dengan menjamu PSM Makassar.
Di hadapan publiknya, Macan Kemayoran tidak sekadar berburu kemenangan, melainkan menegaskan harga diri yang tak ingin digadaikan oleh keadaan.
Baca Juga:Ramadan, Persib Latihan Malam Hari, Bojan Hodak Update Kondisi Terbaru Pemain, Termasuk Alfeandra Dewangga Persija Jakarta Pulang ke JIS saat Menyambut PSM Makassar di Pekan ke-22, Duo Brasil Ini Mengaku Happy
Di ruang latihan yang sunyi sebelum laga, Mauricio Souza memastikan anak-anak asuhnya telah menyiapkan diri untuk pertarungan.
Ia memahami bahwa pertandingan bukan hanya soal siapa yang paling kuat, tetapi juga siapa yang paling siap menghadapi kekurangan.
Sebab, menjelang duel ini, dua pilar tim dipastikan tak dapat ambil bagian.
Rizky Ridho harus menepi akibat akumulasi kartu, sebuah konsekuensi dari disiplin yang kadang berbenturan dengan intensitas laga.
Sementara itu, Paulo Ricardo belum dapat kembali merumput setelah cedera yang menghampirinya dalam laga melawan Bali United FC.
Ia masuk sebagai pemain pengganti pada menit ke-75, namun belum genap setengah jam merasakan ritme pertandingan, tubuhnya telah memberi isyarat untuk berhenti.
Di pengujung laga, ia ditarik keluar, dan sejak itu pemulihannya menjadi perkara waktu yang belum dapat dipastikan ujungnya.
Baca Juga:Cara Adaptif Pelatih Persebaya Menyiapkan Tim saat Ramadan Menjelang Lawan Persijap JeparaMencetak Gol, Andrew Jung Tetap Merasa Kecewa dengan Nasib Persib Bandung di ACL Two
Souza menilai absennya dua pemain tersebut sebagai bagian dari dinamika kompetisi.
Ia menyiratkan bahwa satu pemain harus beristirahat karena cedera, sementara yang lain terhenti oleh akumulasi kartu.
Namun baginya, tim tidak boleh bergantung pada satu atau dua nama.
Persija, menurut keyakinannya, memiliki kedalaman skuad yang cukup untuk menutup celah itu.
Formasi terbaik akan diracik dari mereka yang tersedia, dan kesempatan akan terbuka bagi siapa pun yang siap membuktikan diri.
Ia memandang situasi ini sebagai ujian mutu kolektif.
Ketidakhadiran dua pemain penting justru dianggapnya momentum untuk menilai kualitas tim secara menyeluruh.
Solusi, katanya dalam nada optimistis, harus ditemukan dari dalam tubuh sendiri.
Setiap pemain telah diberi peluang, dan kepercayaan menjadi modal yang tak kalah penting dari taktik.
Di luar persoalan komposisi pemain, ada pula soal rumput yang belum sepenuhnya pulih.
