Kadis Kesehatan Versus Ventilator!

kepala dinas kesehatan kota tasik
dr. H. Asep Hendra Hendriana, M.M, Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya.
0 Komentar

Di dunia kesehatan, keterlambatan bukan sekadar soal administrasi. Ia bisa berarti nyawa. RSUD Dewi Sartika berdiri. Tapi belum hidup. Dan publik menunggu, apakah dr. Asep Hendra akan tetap menjadi dokter yang hebat di masa krisis, atau berubah menjadi pejabat yang terlalu tenang di tengah masalah. Waktu akan menjawab. Ventilator—mudah-mudahan—datang lebih cepat.

Ventilator memang alat. Besi, kabel, layar, dan bunyi bip yang menenangkan keluarga pasien. Tapi di Kota Tasikmalaya, ventilator berubah makna.

Ia bukan lagi sekadar alat medis. Ia menjadi simbol keputusan yang tak kunjung diambil. RSUD Dewi Sartika berdiri di Kecamatan Kawalu. Wilayah yang terus tumbuh. Penduduknya bertambah. Kebutuhan kesehatannya meningkat.

Baca Juga:Hasil Survei Tingkat Kepuasan Warga Kota Tasikmalaya DipertanyakanSiswa MAN 1 Tasikmalaya Sabet Medali Perunggu di Olimpiade Fisika Nasional 2026

Namun rumah sakit itu seperti rumah yang pintunya dikunci dari dalam. Banyak yang bertanya pelan-pelan: apakah ventilator itu mahal? Tentu. Tapi APBD juga bukan celengan kosong.

Apakah sulit mendapatkannya? Tidak juga.

Banyak daerah lain bisa. Bahkan lebih cepat, dengan proses yang sama rumitnya. Di titik inilah publik mulai membaca raut wajah Kadis Kesehatan. Bukan marah. Bukan juga gelisah. Lebih mirip menerima.

Padahal, jabatan Kepala Dinas bukan tempat untuk menerima keadaan. Ia tempat mengganggu keadaan. Asep Hendra paham betul prosedur. Ia tahu standar akreditasi. Ia mengerti syarat BPJS. Ia hafal alur administrasi.

Justru karena itu, ketidakberdayaan ini terasa ganjil. Ada yang berbisik: ini bukan soal kesehatan. Ini soal koordinasi. Soal keberanian menabrak kebiasaan. Kadang yang menghambat bukan aturan, melainkan rasa sungkan pada sistem.

Publik tidak menuntut keajaiban. Tidak juga menuntut rumah sakit sempurna. Mereka hanya ingin satu hal: rumah sakit yang bisa melayani.

Di masa Covid, Asep Hendra tidak pasrah. Ia berlari. Ia mengambil risiko. Ia berdiri di depan. Kini, saat musuhnya bukan virus, melainkan prosedur dan alat, publik berharap keberanian itu kembali.

Sebab sejarah selalu kejam pada pejabat yang terlalu tenang. Ia tidak akan diingat sebagai orang jahat. Ia hanya akan dikenang sebagai orang yang datang, lalu membiarkan. Dan di dunia kesehatan, membiarkan sering kali lebih berbahaya daripada salah langkah. (red)

0 Komentar