Selain itu, ia juga menyinggung spesifikasi ruang kelas yang seharusnya ramah disabilitas, termasuk adanya besi pegangan dan penggunaan keramik tidak licin pada bagian tertentu.
“Kami sebagai perwakilan masyarakat, meminta kepada DPRD dalam hal ini komisi IV sebagai pengawas, dan Dinas Pendidikan juga kementerian meninjau langsung, benar tidak pelaksanaan revitalisasi ini diterapkan sesuai spesifikasi,” dorong Agus.
Ia pun meminta pemerintah daerah melalui segera melakukan pengecekan lapangan. Jangan sampai anggaran revitalisasi sekolah untuk dunia pendidikan ini disalahgunakan. “Kami pun masyarakat tidak akan keberatan jika memang pembangunan sesuai dan hasilnya maksimal,” ujarnya, menambahkan.
Baca Juga:Sekda Kabupaten Tasikmalaya Jadi Staf Ahli, Bupati Lakukan Rotasi dan Mutasi 24 PejabatGP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Kuatkan Kader, Gelar Konsolidasi Organisasi di Enam Zona
Agus mengaku sempat mempertanyakan langsung kepada pihak sekolah terkait spesifikasi pembangunan.
“Pihak sekolah saat ditanya mengaku tidak mengetahui spesifikasi, karena yang melaksanakan pekerjaan pembangunan adalah pihak ketiga atau pemborong,” tambah dia.
Menanggapi hal itu, Guru Bendahara SDN Margajaya, Iqbal Nur Rajab, menegaskan program revitalisasi telah dilaksanakan sesuai ketentuan.
“Sudah di cek oleh pihak kementrian sebanyak dua kali. Dan tanggal 23 Desember 2025 lalu sudah Berita Acara Serah Terima (BAST) dengan Kementerian Pendidikan,” terang Iqbal.
Ia menjelaskan, dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB), revitalisasi ruang guru hanya mencakup atap dengan kebutuhan sekitar Rp 40 juta dan seluruh pekerjaan telah tuntas 100 persen.
“Jadi pihak sekolah sudah didampingi tim ahli sesuai dengan juknis. Yaitu pengawas dan perencana,” terang Ikbal.
Adapun rincian anggaran konstruksi meliputi rehab enam ruang kelas sebesar Rp 623.500.002, rehab toilet satu paket Rp 49.386.000, rehab administrasi guru Rp 41.928.000, serta pembangunan satu ruang perpustakaan Rp 207.504.000, dengan total Rp 922.318.002.
Baca Juga:Anggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Aldira Yusup Soroti Penutupan Tambang Emas: WPR Belum Dirasakan Rakyat!Anggota DPRD Jabar Arip Rachman Salurkan 2.500 kWh Listrik Gratis untuk Warga Kurang Mampu di Tasikmalaya
Terkait kondisi cat tembok yang dinilai berlumut, Iqbal menyebut hal itu dipengaruhi faktor teknis bangunan.
“Desain atap kayu dulu untuk selasar 1 meter sedangkan atap sekarang baja ringan 80 cm. Jadi air hujan tidak langsung ke selokan tapi ke selasar dan cipratan membuat tembok basah,” paparnya.
Ia menambahkan perbaikan sudah dilakukan melalui pengerokan, pengampelasan, dempul, palamir dan pengecatan ulang.
“Aset sudah diketahui oleh dinas, dan sudah ada berita acaranya. Untuk lapangan belum beres, masih berjalan,” ujarnya, menegaskan. (dik)
