TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Polemik dugaan aliran air lindi dari IPAL TPA Ciangir kembali mengusik ketenangan warga di Kota Tasikmalaya.
Aliran air yang tampak menuju Sungai Cipajaran memantik trauma lama: peristiwa pencemaran 2024, saat sungai berubah warna dan aroma seperti sup sampah basi.
Pemerintah Kota Tasikmalaya melalui Dinas Lingkungan Hidup Kota Tasikmalaya membantah tudingan tersebut.
Baca Juga:MBG Mandek Tiga Pekan di SD Condong Kota Tasikmalaya, Kata PIC Dapur SPPG: karena Pergantian KSPPGDitinggal Tarawih, Rumah PNS di Kota Tasikmalaya Dibobol Maling: Uang Rp20 Juta Raib, Pintu Tetap Terkunci
Kepala DLH, Sandi Lesmana, menyebut aliran yang terlihat bukan lindi, melainkan limpasan air hujan akibat curah tinggi dalam beberapa hari terakhir.
“Sekarang musim hujan, run off dari atas tentu berlimpah. Tidak mungkin itu lindi. Ada sedikit, tapi masih terkendali. Alhamdulillah tidak ada dampak berarti,” ujar Sandi, Kamis (19/2/2026).
Ia mengklaim pihaknya sudah menurunkan tim ke lapangan bersama Kepala UPTD TPA Ciangir, Yanri Kurniawan, serta aparat wilayah.
Bahkan, kata dia, air yang keluar dari area kanopi IPAL terlihat bening.
“Yang keluar itu air hujan, bukan lindi. Kalau lindi posisinya di bawah. Ini limpasan dari atas,” tegasnya.
Namun di balik bantahan itu, DLH mengakui sistem IPAL belum sepenuhnya berjalan optimal.
Beberapa perangkat belum terpasang 100 persen, terutama pasokan listrik yang dibutuhkan agar sistem filtrasi dan pengolahan kimia bekerja maksimal.
Baca Juga:Riset Smart Trash Universitas Mayasari Bakti Dorong Pengelolaan Sampah Digital di Kota TasikmalayaPlat Nomor Terbalik, Mobil Dinas Pemerintah Kota Tasikmalaya Viral: Sekretaris BPBD Akui Lalai
“Kita terkendala pemasangan drainstick dan listrik. Mudah-mudahan akhir bulan ini optimal. Kalau listrik sudah masuk, pengolahan bisa jalan sesuai fungsi,” katanya.
Sandi juga menyebut kolam IPAL merupakan fasilitas lama yang perlu dikuras dan ditreatment ulang. Proses menjernihkan air, menurutnya, tidak bisa instan.
“Kolam itu harus dikuras dulu. Enggak bisa ujug-ujug herang. Debit air terus masuk, jadi perlu proses dan bahan kimia yang cukup,” ucapnya.
Sorotan warga kembali menguat sejak Selasa (17/2/2026). Mereka mengaku masih melihat aliran dari kawasan IPAL menuju Sungai Cipajaran.
Kekhawatiran muncul karena pengalaman pahit dua tahun lalu, ketika sungai menghitam dan berbau menyengat akibat pembuangan IPAL tanpa filtrasi memadai—yang kala itu juga diakui pemerintah.
“Kami takut kejadian 2024 terulang. Dulu airnya hitam dan baunya kuat sekali. Sekarang memang tidak separah itu, tapi alirannya masih masuk ke sungai,” ujar seorang warga.
