RADARTASIK.ID— Kota selalu punya cara untuk memanggil pulang anak-anaknya. Dan bagi Persija Jakarta, panggilan itu bernama Jakarta International Stadium atau JIS.
Pada pekan ke-22 BRI Super League musim 2025/26, Macan Kemayoran dijadwalkan menjamu PSM Makassar, Jumat, 20 Februari.
Namun pertandingan itu bukan sekadar soal tiga poin. Ia adalah kisah tentang kepulangan—setelah beberapa waktu Persija mengembara, berpindah dari satu stadion ke stadion lain, termasuk sempat merasakan megahnya Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Baca Juga:Cara Adaptif Pelatih Persebaya Menyiapkan Tim saat Ramadan Menjelang Lawan Persijap JeparaMencetak Gol, Andrew Jung Tetap Merasa Kecewa dengan Nasib Persib Bandung di ACL Two
Kembali ke JIS membuat ruang ganti terasa berbeda. Ada getar yang tak kasatmata, sesuatu yang lebih dari sekadar taktik dan strategi.
Di antara para pemain, semangat itu terbaca jelas, termasuk pada raut wajah Maxwell Souza dan Allano Lima.
Mereka menyambut kepastian itu bukan hanya sebagai kabar teknis, melainkan sebagai kabar pulang.
Maxwell memandang stadion di kawasan Ancol tersebut memiliki daya hidupnya sendiri.
Baginya, bermain di JIS menghadirkan kedekatan yang lebih intim dengan The Jakmania.
Jarak tribun yang terasa dekat, sorak yang menggulung tanpa jeda, dan gelombang dukungan yang seolah turun langsung ke rumput—semuanya membentuk ikatan yang sukar dijelaskan dengan angka statistik.
“Kami sangat senang bisa kembali ke rumah. Kami tahu The Jakmania selalu berpesta ketika kami bermain di JIS,” ujar Maxwell. “Kami berharap kembali ke JIS dengan kemenangan jadi fans kami bisa merasakan kegembiraan di rumah,” ujarnya.
Baca Juga:Bersiaplah! Kini Persib Fokus ke Super League Usai Terhenti di ACL Two, Ini Kata Bojan HodakHarga Tiket Persib vs Madura United Sangat Terjangkau, Bobotoh Bisa Penuhi Stadion GBLA
Catatan musim ini pun seakan mempertebal keyakinan itu. Sejak awal kompetisi, tim besutan Mauricio Souza belum pernah menelan kekalahan di JIS.
Satu kemenangan dan dua hasil imbang menjadi saksi bahwa stadion tersebut bukan sekadar tempat bertanding, melainkan ruang di mana mental bertumbuh dan keberanian menemukan bentuknya.
Maxwell menyiratkan bahwa seluruh tim merasakan kebahagiaan bisa kembali ke rumah sendiri.
Mereka memahami betul bagaimana The Jakmania menjadikan setiap laga di JIS seperti perayaan.
Ia berharap kepulangan itu dapat disempurnakan dengan kemenangan, agar para pendukung merayakan kegembiraan di tempat yang mereka anggap milik bersama.
