RADARTASIK.ID— Malam di Gelora Bandung Lautan Api itu seperti menyimpan dua wajah: harapan dan kehilangan.
Di tengah riuh yang tak henti memanggil namanya, Persib Bandung memenangi laga, tetapi gagal memenangi takdir.
Satu gol yang lahir dari kaki Andrew Jung pada menit ke-39 hanya cukup untuk menggetarkan dada, belum cukup untuk membalikkan sejarah.
Baca Juga:Bersiaplah! Kini Persib Fokus ke Super League Usai Terhenti di ACL Two, Ini Kata Bojan HodakHarga Tiket Persib vs Madura United Sangat Terjangkau, Bobotoh Bisa Penuhi Stadion GBLA
Agregat tetap berpihak pada Ratchaburi FC, dan perjalanan di AFC Champions League Two pun berhenti di babak 16 besar.
Andrew Jung berdiri di hadapan wartawan dengan wajah yang menyimpan getir.
Penyerang asal Prancis itu mengakui adanya kekecewaan yang tak mudah diredam.
Dalam pandangannya, Persib sesungguhnya memulai pertandingan dengan janji.
Tim tampil dominan, menguasai ruang dan ritme, serta menciptakan peluang-peluang yang akhirnya berbuah gol di babak pertama.
Ia sejalan dengan penilaian pelatih Persib Bojan Hodak bahwa empat puluh lima menit awal adalah potret permainan yang mereka kehendaki—penuh keberanian dan inisiatif.
Namun sepak bola, seperti kehidupan, tak selalu berjalan di atas garis yang lurus.
Andrew Jung melihat perubahan arah ketika lawan memilih bertahan total, menutup setiap celah seperti pintu yang digembok dari dalam.
Baca Juga:Lokasi Nobar Persib vs Ratchaburi FC di Bandung yang Seru dan Nyaman, Ini Harga Tiketnya Persib vs Ratchaburi FC dengan Tekad Federico Barba Sekeras Baja: Kami Kuat di Kandang!
Keadaan menjadi lebih terjal ketika, menjelang turun minum, Uilliam Barros harus meninggalkan lapangan lebih cepat akibat kartu merah.
Bermain dengan sepuluh orang di babak kedua, menurut Jung, membuat jalan menuju kemenangan yang lebih besar terasa kian sempit.
“Setelah itu, situasi 10 lawan 11 membuat kemenangan menjadi lebih sulit,” ujar Andew Jung usai laga.
Akar Persib Gagal ke 8 Besar ACL Two
Meski demikian, ia menegaskan bahwa kegagalan itu bukanlah semata milik malam di Bandung.
Dalam keyakinannya, beban sesungguhnya telah dipikul sejak pertemuan pertama di Thailand.
Kekalahan pada leg awal itulah yang menjadi akar dari tersingkirnya Persib secara agregat.
Ia menyiratkan bahwa timnya tersingkir bukan karena apa yang terjadi hari itu, melainkan karena apa yang luput diperbaiki sebelumnya.
Sejak peluit awal dibunyikan, Maung Bandung tampil dengan susunan terbaiknya.
Di bawah mistar, Teja Paku Alam berdiri tenang, dilindungi barisan belakang yang dihuni Alfeandra Dewangga, Patricio Matricardi, Eliano Reijnders, dan sang kapten Federico Barba.
