Ia menyadari tugas itu tak ringan, namun tetap percaya bahwa timnya akan berupaya sekuat tenaga menjawab tantangan.
Di bawah mistar, Andhika Ramadhani berdiri sebagai saksi kesiapan rekan-rekannya.
Andhika Ramadhani menyiratkan bahwa para pemain sepenuhnya mengikuti arahan tim pelatih.
Ia memahami bahwa pada bulan-bulan biasa, latihan bisa digelar dengan tempo yang lebih tinggi.
Baca Juga:Mencetak Gol, Andrew Jung Tetap Merasa Kecewa dengan Nasib Persib Bandung di ACL TwoBersiaplah! Kini Persib Fokus ke Super League Usai Terhenti di ACL Two, Ini Kata Bojan Hodak
Namun Ramadan menuntut penyesuaian; intensitas tak mungkin dipacu sembarangan, kecuali jika sesi dilakukan pada malam hari sebagaimana pengalaman musim-musim sebelumnya.
Bagi Andhika dan kawan-kawan, Ramadan bukan pengalaman baru.
Mereka telah terbiasa meniti hari dengan perut yang menahan lapar dan tenggorokan yang menahan dahaga, sambil tetap menjaga profesionalisme di lapangan.
Keyakinan itu terucap sederhana, namun mengandung tekad yang tak ingin goyah—bahwa di antara puasa dan pertandingan, mereka akan menemukan keseimbangan.
