Dan demikianlah, di bawah langit Bandung yang kembali sunyi, Persib menutup satu halaman kisahnya di Asia.
Bukan dengan kepala tertunduk sepenuhnya, melainkan dengan kesadaran bahwa sejarah selalu memberi ruang untuk kembali—asal keberanian tetap dijaga, dan ingatan atas kekurangan tak pernah disangkal.
